Kehidupan tidaklah selalu berjalan linear. Yang mampu terpikir oleh manusia bisa sangat mungkin berbeda dengan yang terjadi. Makanya kita sering mendapati sesuatu dan menyebutnya sebagai hal yang “di luar dugaan”, “kejutan” atau membuat mulut melontarkan kalimat bernada kesimpulan, seperti, “Weh, ternyata…”.
Padahal, semuanya menerangkan satu hal, ketidaktahuan manusia dalam memahami kehidupan, dalam memahami alam. Dan, sayalah manusia bodoh dan kerdil itu, yang dalam hal ini punya anggapan keliru kepada Merapi.
Bagaimana tidak? Baik dalam ukuran maupun menurut hitungan, saya dan Anda tentu sepakat bahwa erupsi G. Merapi 2010 demikian dahsyat. Dalam peristiwa yang disebut-sebut sebagai yang terbesar semenjak 1872 itu, ratusan nyawa jadi korban, ribuan lainnya jadi pengungsi. Berpuluh dusun rata tertimbun debu vulkanik. Total, tiga ribu hektar kawasan rusak parah.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), United Nation Development Program (UNDP), Bank Dunia, kementerian, lembaga dan pemerintah daerah menghitung kerugian material yang ada mencapai 7,3 triliun. Itu belum termasuk hitungan akibat lahar dingin yang menghanyutkan rumah, jembatan dan benda apapun yang berada di jalurnya.
Kalau tak percaya dengan ukuran dan hitungan itu, silahkan saja datang, lihat dan buktikan sendiri kedahsyatan dampak erupsinya. Kalau saya sih percaya. Maka, menjadi wajar bila yang terbayang dalam benak saya Merapi kemudian menjadi suatu kawasan tanpa kehidupan. Tak ada lagi hijau, tak terdengar lagi burung berkicau. Tak tersisa apapun bahkan untuk secuil harapan. Kalaupun semua itu ada, butuh proses lama hingga segala keindahan yang pernah ada kembali seperti sedia kala.
Namun, saya keliru. Dalam kesempatan beberapa kali mengunjungi Merapi sepanjang Januari hingga April 2011, saya mendapati hal berbeda. Di sana-sini memang terlihat dampak erupsi, tapi Merapi dan segenap penghuninya terus saja menggeliat. Keindahan tampak dari hal “kecil” dan “sepele” macam dedaunan baru yang tumbuh dari batang pohon puspa rubuh, segerombolan betet yang hinggap di ranting kering atau lewat hujan yang memaksa seekor walik berteduh. Kehidupan masih terus berjalan.
Benar lah peribahasa “Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak”. Artinya memang untuk orang yang tidak menyadari kesalahan besar pada diri sendiri, namun sangat ngeh dengan kesalahan orang lain yang cuma secuil. Tapi, secara umum, kata “kesalahan” itu boleh diganti yang lain, misalnya potensi, kekuatan, kelebihan atau apa lah. Sementara “diri sendiri” itu bisa diartikan dengan yang dekat dengan kita.
Begitulah saya “menilai” Merapi setelah erupsi itu. Sebuah potensi luar biasa besar, setia berdiri di depan mata, namun saya abai terhadapnya. Dialah gajah di pelupuk mata yang tak saya perdulikan. Ternyata, belasan tahun menjadikan Merapi sebagai “taman bermain”, saya tetap tidak tahu apa-apa tentangnya.





Memang seperti itulah kenyataanya,.. (mbuh opo ra jelas,.. heheh)
Oleh: Asman on Mei 29, 2011
at 2:11 am
Cen ra jelas… hahaha
Oleh: peburungamatir on Mei 30, 2011
at 12:55 am
makane ta ojok mikir yulia ae.
kamare kutilang tengah kae yo gajah di pelupuk mata lo ndo. kae yo kantong biodiversitas! semut, jamur, coro, tengu, kodok sampe curut ono kabeh. layak melbu artikel BI iku hahaha!
Oleh: baluran and me on Mei 29, 2011
at 11:42 am
Aku hunting makro ng awakmu wae kang… Jamur panu, bakteri, kutu rambut, dll… Lumayan iso nambah2 folder spesies renik nggo FOBI… hahaha
Oleh: peburungamatir on Mei 30, 2011
at 12:51 am
mesti ra penak bgt nek klilipen gajah segede merapi kui :p
Oleh: imexplore on Juni 22, 2011
at 3:55 pm
UPDATE! UPDATE!
Oleh: baluran and me on Juli 2, 2011
at 4:45 pm