Sang garuda terbang membumbung tinggi
Keluar dari persembunyiannya dalam rapat hijau hutan depterokarp
Aku mengamati dengan takjub dari tempat ini—tepian hening merapi
Ia bertengger tenang
Rimba raya dalam kesunyian
Dan aku masih berbicara dalam kebisuan
Tentang derap langkah kepunahan yang menghantui masing-masing kita
—Hingga kelak sang garuda, rimba raya dan aku
Hanya tinggal menjadi cerita
(Di Tepian Hening Merapi–Ciputat, 170507)
Erupsi Merapi 2010 membuat saya berpikir gunung di utara Jogja itu sudah “habis”. Kenyataannya, saya salah, sebagaimana yang saya tuangkan dalam tulisan ini.
Dari beberapa kali kunjungan setelah erupsi itu, saya membuktikan sendiri bahwa masih ada kawasan yang selamat dari peristiwa dahsyat itu. Saya pun mendapati kalau beraneka makhluk hidup yang bernaung di selimut kabutnya masih bertahan. Termasuk burung, yang beberapa jenis di antaranya berbaik hati memperlihatkan kepada saya kehidupan percintaan mereka.
Seperti kipasan ekor-merah Rhipidura phoenicura yang fotonya saya pasang di atas. Saat itu pasangan tersebut tengah bersarang di sekitar Plawangan, tidak jauh dari puncaknya. Sarangnya ditemukan pertama kali pada 13 April 2011 oleh tim survei Fakultas Kehutanan UGM & Balai Taman Nasional Gunung Merapi.
Saat foto itu saya ambil di akhir Mei 2011 (satu setengah bulan setelah temuan pertama), saya menjumpai mereka tengah membuat sarang juga. Belum jadi malah. Alaminya saat itu mereka tengah mengasuh anakan. Tapi sepertinya sarang pertama mereka gagal, lalu mereka membuat sarang baru. Saya meyakininya seperti itu karena sarang berada persis di pinggiran jalan setapak jalur trekking.
Entah bagaimana nasib mereka selanjutnya. Mungkin tidak seberuntung burungmadu gunung Aethopyga eximia. Setidaknya saya menjumpai dua kali adanya aktifitas breeding sesama endemik Jawa ini.
Pertama, di medio Maret 2011, kala seekor betina terlihat bolak-balik ke sebuah tanaman pakis tiang (Cyathea sp). Rupanya di pucuk tanaman tersebutlah ia menempatkan sarangnya. Cukup tersembunyi.
Tanaman tersebut tumbuh persis di lereng jalan setapak menuju Goa Jepang Plawangan. Sarangnya sendiri terletak di ketinggian sekitar 5 meter. Kalau tidak berhenti dan memperhatikan si burung yang selalu bolak-balik ke tanaman itu, pasti sarangnya tidak akan pernah saya temukan.
Dari aktifitasnya, kemungkinan individu itu tengah dalam masa pengasuhan. Meski begitu, saya tidak melihat jantan pasangannya di sekitar sarang.
Perjumpaan kedua terjadi sekitar satu bulan setelahnya. Lagi-lagi saya menjumpai seekor betina, yang kali itu terlihat bolak-balik mengambil serat bunga dari tanaman keluarga Asteracea. Saya cukup yakin kalau betina itu individu berbeda dari yang saya jumpai sebelumnya. Selain rentang waktunya yang terpaut sudah cukup lama, lokasi saya menjumpai keduanya juga cukup jauh.
Jenis yang lain terlihat saling memadu kasih, yakni cabai gunung Dicaeum sanguinolentum dan ciu besar Pteruthius flaviscapis. Keduanya saya jumpai di hari yang sama dengan saya menjumpai kipasan merah. Lokasinya pun tidak terlalu berjauhan, masih di sekitaran puncak Plawangan.
Cabai gunung yang saya jumpai saat itu masih dalam masa-masa awal mencari pasangan. Yang terfoto adalah satu bagian dari aktifitas display jantan guna menarik perhatian betinanya. Si jantan menggerak-gerakkan sayap dan ekornya, menari-nari. Unik sekali. Baru kali itu saya melihatnya.
Sementara, ciu besar yang saya temui saat itu tengah membangun sarang. Meski foto yang terpampang adalah jantan, namun sebenarnya, baik jantan maupun betina sama-sama membangun sarang. Keduanya saling bekerja sama mengumpulkan material untuk sarang yang akan jadi tempat membesarkan buah cinta mereka. Bila jantan pergi, betina menjaga sarang sembari membenahi bentuk maupun material yang sudah disusun. Pun demikian sebaliknya. Harmonis sekali, saya iri… hehehe…

Pteruthius flaviscapis jantan. Bersama betinanya mereka bekerja sama membangun sarang. Plawangan, 31 Mei 2011.
Selain jenis-jenis tersebut, saya setidaknya mencatat indikasi aktifitas breeding dari empat jenis yang lain. Kacamata biasa Zosterops palpebrosus dan wergan jawa Alcipe pyrrhoptera tengah membangun sarang. Teramati juga dua individu remaja dari Erythrura prasina si bondolhijau binglis, memastikan adanya keberlanjutan keturunan jenis ini di Merapi.
Yang paling menarik, temuan elang jawa Spizaetus bartelsi yang tengah bersarang. Sarang ditemukan di Plawangan, oleh Hary Subarkah, saat ia melakukan survei populasi lutung jawa Trachypithecus auratus di tempat tersebut.
Sayang, dari beberapa kali pengecekan, sepertinya pasangan elang jawa tersebut gagal bersarang. Karena pada saat pertama dijumpai, aktifitas yang terlihat adalah pengeraman, namun di dua minggu berikutnya, sarang sudah terlihat kosong dan ditinggalkan. Kalau demikian yang terjadi, ini menjadi catatan kegagalan yang ketiga bagi elang jawa di Merapi.
Sebelumnya, aktifitas elang jawa bersarang ditemukan pada 2008 dan 2009 oleh BB. Setyawan (Mas Wa). Meski diamati cukup intensif, aktifitas bersarang di Alas Tekek selama dua tahun berturut-turut itu selalu gagal menghasilkan anakan.
Ditambah kegagalan bersarang di 2011, nasib elang jawa di Merapi sebenarnya cukup tragis. Ini jelas jadi lampu merah buat siapa pun, terutama yang mengaku jadi pemerhati burung. Atau biarlah kehidupan berjalan adanya, karena toh kita semua hanya akan tinggal jadi cerita…




dan simbah pun juga bercinta hahahhha..jozz
Oleh: fian on Desember 22, 2011
at 3:30 am
hehe… ay lope yu tu
Oleh: peburungamatir on Desember 22, 2011
at 3:34 am
mantap lah sang penyair legendaris ki,. wkwkwk
Oleh: Asman on Desember 22, 2011
at 4:25 am
sing legendaris-legendaris iku hak paten SW man… he
Oleh: peburungamatir on Desember 22, 2011
at 5:49 am
catatan dan tulisan yang bagus. layak menyandang gelar LEGENDARIS yang sesungguhnya..
Oleh: baluran and me on Desember 23, 2011
at 3:27 pm
nek nulis ngene ki Imam metu sisi Romantisme-ne,.. wkwkwk
Oleh: Asman AP on Desember 24, 2011
at 4:34 pm
Kang Swiss: PREEETTT… pentung
Asman: ra romantis, tapi puitis.. hehe
Oleh: peburungamatir on Desember 26, 2011
at 5:18 pm