Oleh: peburungamatir | Oktober 13, 2018

Mari Bercerita

Mari bercerita
tentang bunga-bunga ungu yang daunnya menghampar di rawa
lantai berpijak burung-burung putih dari utara
tempat katak menambatkan harap

atau sesekali hati kita saja yang bicara
cukup dalam diam
bahasa yang sederhana

karena seperti yang kau bilang
lugas itu perjuangan

11 Okt 2011

Iklan
Oleh: peburungamatir | Juni 25, 2018

Muhammad Iqbal, ornitolog panutan

Muhammad Iqbal

Muhammad Iqbal

Di pembawaannya yang tenang, ada bara yang menyemangatinya untuk selalu berkarya. Laci koleksi pustaka ornitologi saya penuh atas satu nama, Muhammad Iqbal.

Telah 94 publikasi ia torehkan di rentang 2005-2018. Angka dipastikan akan terus bertambah karena di tahun ini saja, ada beberapa makalahnya yang tinggal menunggu terbit. Dari jumlah itu, terdapat 68 publikasi (72%) dengan namanya sebagai penulis utama (first author).

Peraih ‘Ornithologist of the Year’ dari Indonesian Ornithologist Union (IdOU) tahun 2009 ini menjadi orang Indonesia yang paling produktif dalam menulis. Dalam usia yang memasuki 40 tepat di hari ini, 26 Juni, Muhammad Iqbal telah menancapkan satu patok tinggi untuk bangsa ini.

Kiprahnya di perburungan berawal saat kuliah. “Kami dulu mahasiswa anak FMIPA Unsri yang mendapat grant dari Yayasan Kehati untuk survei burung di TN Kerinci Seblat,” demikian sepak-terjangnya bermula. Setelah menamatkan kuliah, bang Iqbal, begitu saya biasa menyapa, kemudian berkesempatan mengikuti program survei IBA (Important Bird Area) inisiasi BirdLife Indonesia.

Dari keterlibatan di kegiatan itu, pada 2001, terbentuklah Kelompok Pengamat Burung Spirit of Sumatra (KPB SoS), wadah yang membesarkan namanya. Bang Iqbal mendirikannya bersama Ali Imron dan Fadly Takari. Lewat organisasi tersebut ia kian akrab dengan berbagai aktifitas survei dan riset. Seperti kala Wetlands International menjalankan program pengusulan Taman Nasional Sembilang. Menurutnya, keterlibatan di kegiatan tersebut memberi banyak pengalaman berharga, termasuk temuan-temuan penting yang kemudian berbuah makalah ilmiah.

Publikasi ornitologi pertamanya memuat tentang berbagai jenis burung baru dan jarang tercatat di Sumatera, temuan dari berbagai survei yang ia ikuti. Makalah terbit di Forktail pada 2005, berjudul “New and noteworthy bird records from Sumatra, Indonesia”. Enam jenis yang termuat. Elang-rawa tangling, teramati pada November 1999 di Ogan Komering Lebak, menjadi yang pertama untuk Sumatera dan trinil kaki-kuning di Kerinci Seblat, menjadi catatan kedua untuk Sumatera sekaligus Indonesia.

Sebagai yang pertama, pengalaman menulis di Forktail itu begitu membekas. Kala itu, editor dan reviewer meragukan temuan-temuannya. Butuh sekitar dua tahun hingga akhirnya makalah terbit. Tak heran hingga saat ini bang Iqbal belum menerbitkan tulisan lagi di jurnal milik Oriental Bird Club itu.

Di tahun berikutnya ia mampu mempublikasikan tiga makalah. Dua yang terbit di Kukila, mengenai kowak jepang dan kowak merah. Kedua jenis itu baru untuk Sumatera.

Ia kemudian melejit dengan laporan berbagai temuan jenis baru untuk Indonesia atau region, catatan perkembangbiakan, ulasan terkini, dan banyak lagi. Dalam setahun, publikasinya pernah mencapai 15 makalah. Di rentang 13 tahun kiprah ornitologinya, hanya pada 2007 ia absen.

Kontribusi kepenulisan

Kontribusi kepenulisan Muhammad Iqbal di ornitologi

publikasi berdasar kelompok burung

Publikasi Muhammad Iqbal berdasar kelompok burung

Sebagian besar publikasi bang Iqbal adalah mengenai burung pantai (39%). Satu-satunya orang Indonesia yang menjadi anggota International Wader Study Group (IWSG) ini pernah menulis secara berseri jenis gagang-bayam timur, gagang-bayam belang, dan cerek jawa. Soal ini, mungkin terkait erat dengan bentang alam tanah kelahirannya yang demikian lekat dengan ekosistem perairan, rawa, dan pesisir. Demikian pula untuk kelompok burung air.

Ia pernah melakukan survei khusus untuk bangau bluwok, menyusuri pesisir timur Sumatera dari ujung utara hingga selatan, dan membuat makalah berseri tentang jenis terancam punah itu.

Banyak menulis tentang burung, namun sebenarnya tulisan ilmiah pertamanya adalah tentang ikan. Pada 2003, sebagai penulis pendamping, ia menulis tentang ikan-ikan di perairan estuaria Taman Nasional Sembilang. Setahun berikutnya, ia menulis tentang daerah penting bagi ikan di Sumatera Selatan—kali ini sebagai penulis tunggal. Publikasinya mengenai ikan  terbilang banyak dan penting, memuat berbagai temuan jenis baru untuk Sumatera maupun Indonesia. Kalau berkesempatan melanjutkan pendidikan, bang Iqbal mungkin akan memilih mendalami iktiologi. Saat ini ia tengah berfokus menyelesaikan buku tentang ikan air tawar Sumatera Selatan.

Dalam mengambil sudut pandang tulisan, ayah tiga anak ini punya kejelian. Makalah mengenai perdagangan raptor misalnya, kajiannya diambil dari lalu lintas jual beli grup-grup Facebook. Judul makalah yang terbit di BirdingASIA pada 2016 itu pun unik, “Predators become prey! Can Indonesian raptors survive online bird trading?”.

Bang Iqbal pernah mencatatkan temuan menarik dari burung yang masih menjadi misteri. Di penghujung 2014, saat mengunjungi Pulau Menui, Sulawesi Tenggara, ia menjumpai sejenis walik yang tak ada padanannya di buku manapun. Burung misterius itu sepintas mirip dengan walik kembang, namun bila jantan walik kembang berkepala putih, burung yang ditemukan bang Iqbal berkepala gelap dengan dagu kuning. Foto-foto dari burung yang ditemukan dalam peliharaan tersebut ia kirimkan ke situs foto burung orientalbirdimages.org.

“Dikhawatirkan ini burung diwarnai, tapi saya lihat ada dua pasang, dan orang-orang di sana tidak seperti secanggih pedagang burung di Jawa,” jelasnya satu kali. “Walau bisa menjebak burung tapi tidak yakin mereka mewarnainya. Orang lokal bilang Menui Fruit-Dove burung asli tangkapan bukan diwarnai”. Ia berharap kelak bisa kembali ke pulau tersebut dan menyibak misteri walik menui.

Dari semua itu, sosoknya dikenal sangat bermurah hati dalam berbagi pengetahuan. Ia merespon dengan cepat ke siapa saja yang bertanya padanya, menyuplai buku-buku atau informasi dari koleksi bacaan di perpustakaannya. Penggemar AC Milan ini kerap membuat kuis dengan hadiah buku atau pulsa.

Sikapnya itu lahir dari kesadaran dan pengalaman. Ia mencontohkan interaksinya dengan banyak ornitolog dunia yang begitu cepat memberi tanggapan, melayani pertanyaan-pertanyaan dengan antusias, dan senang berbagi. Menurutnya, itu cerminan perilaku yang islami. Sebagai muslim ia malu bila tak berperilaku seperti itu.

Di suatu waktu, sepuluh tahun lalu, saya bertanya padanya tips-tips menulis ilmiah. Padahal saya belum pernah bertemu muka dan perkenalan hanya sebatas di forum mailing list. Tetapi, itulah istimewanya, ia amat ringan dalam berbagi ilmu. Berikut tips manjur darinya:
1. Yakinkan pada diri kita sendiri kalau materi yang ingin di-publish [itu] sesuatu yang menarik (eg. catatan pertama untuk daerah, first breeding record atau sejenisnya)

2. Atau setidaknya burung tersebut jarang atau jenis terancam punah (mungkin terakhir terlihat 10 tahun lalu atau recordnya sedikit sekali)

3. Kuasai dengan baik informasi ilmiah yang ada setidaknya yang diakui (eg Kukila, Forktail, BirdingASIA, dll) sehubungan dengan materi yang akan ditulis

4. Minta masukan dari orang yang berkompeten

5. Jangan ragu untuk mengirim tulisan ke jurnal yang dikehendaki

6. Jangan berpatah hati kalau tulisan tidak dimuat, kalau bisa jadi pemicu agar bisa berbuat lebih baik

7. Terus konsisten untuk berkomunikasi dengan jurnal yang dikirim, kalau ada yang diedit usahakan selesaikan dengan cepat

8. Kalau pernah bekerja dengan orang yang sudah sering mengirim paper [bang Iqbal menyebut beberapa nama, tapi tidak saya sebutkan di sini] minta komentar dari mereka dan masukkan ke Acknowledgement bahwa mereka mereview paper kita sehingga publisher tahu kalau kita ada kompetensi dan sebelumnya telah menjalin komunikasi dengan mereka.

Pada November 2017, salah satu situs peneliti yang diikutinya membuat satu pengumuman. Publikasinya, telah terbaca hingga 10.000 kali. Lewat beranda Facebook, ia mendedikasikan itu untuk ayahanda.

“Ayah memiliki latar belakang guru agama, dan mendidik anak-anaknya dengan keras untuk masalah ini,” kenangnya. “Tetapi ketika mengajukan permintaan untuk menekuni biologi, bukan ilmu agama, alhamdulillah beliau mengizinkannya. Terima kasih ayah, jika ini ada manfaatnya, semoga bisa menjadi wasilah buat kebaikanmu di sana juga.”

Pilihan yang tepat dan terbukti memberi banyak kebermanfaatan. Ia menjadi yang paling produktif dalam menyusun menara pengetahuan perburungan Indonesia, dermawan membagi ilmu, dan gigih mendorong para pengamat burung pemula untuk juga menulis.

Muhammad Iqbal adalah pengecualian. Kehadirannya menjadi contoh dan panutan. Ilmuwan tekun dan gigih, guru sekaligus kawan bagi banyak orang. Sosok sepertinya, tak selalu lahir di tiap jaman.

Oleh: peburungamatir | Juni 10, 2018

Burung pantai, pendulang angka untuk Indonesia

Kedidir erasia_Chairunas Adha Putra_2018

Kedidir erasia saat akan mendarat, Pantai Surya, Sumatera Utara, 12 Februari 2018. Foto oleh Chairunas Adha Putra.

Dari 63, 65, ke 69, kini mencapai 79—dan 2018 masih berjalan.

Urutan itu menyangkut jumlah jenis burung pantai yang tercatat di Indonesia. Jenis terbaru, kedidir erasia, teramati di pesisir timur Sumatera Utara. Chairunas dan Desy yang menjumpainya baru-baru ini, Februari 2018.

Perjumpaan yang oleh pasutri ini publikasikan bersama bang Iqbal, termuat di jurnal Wader Study edisi 125. Terbit April dengan judul “Eurasian Oystercatcher Haematopus ostralegus: a new species for Indonesia”.

Hanya dua bulan setelah perjumpaan dan makalah terpublikasi. Itu luar biasa cepat dan mungkin jadi rekor tersendiri. Salut atas ketekunan dan semangat para penulis yang tidak menunda-nunda pekerjaan.

Temuan ini makin mengukuhkan burung pantai sebagai kelompok pendulang angka yang membuat daftar burung Indonesia terus bertambah. Mari lihat pergerakan angka-angka yang tertulis di awal.

Pada 1992, dalam “Kukila Checklist No.1”, Paul Andrew mencatat 63 jenis burung pantai di Indonesia. Jumlah ini menjadi 65, sebagaimana tersusun dalam buku “Panduan Studi Burung Pantai” karya Howes dkk (2003). Dalam “Daftar Burung Indonesia No 2” karya Sukmantoro dkk (2007), angkanya bertambah menjadi 69. Nchay dkk menjadikannya 79 jenis, sebagaimana yang dikompilasi Yayasan Kutilang Indonesia (2018).

Ada 16 jenis yang memperpanjang daftar di kurun 26 tahun. Penambahan tersebut dapat digolongkan dalam dua kategori, yakni hasil pemisahan (2 jenis) dan temuan baru (14 jenis). Dari 14 jenis temuan baru itu, lokasi berasal dari Jawa (4), Sumatera (3), Bali (2), Papua (2), dan Kalimantan, Nusa Tenggara, serta Sulawesi yang masing-masing satu.

Burung pantai baru untuk Indonesia

Daftar jenis burung pantai baru untuk Indonesia kurun 1984-2018.

Temuan-temuan baru seperti ini akan sangat mungkin terjadi lagi. Sebagian besar anggota kelompok burung pantai adalah migran—nyaris 80% dari yang terdaftar untuk Indonesia adalah penjelajah benua.

Pelintas bumi ini punya jalur terbang yang umum mereka lintasi. Namun, berbagai faktor dapat menyebabkan mereka nyasar dan ‘keluar’ jalur: burung muda yang tersesat di penerbangan jauh pertamanya, hempasan badai, dan banyak lagi.

Peluang mendapatkan jenis vagrant jadi selalu terbuka lebar. Panjang garis pantai negeri ini mencapai 99 ribu kilometer, kira-kira setara dua kali keliling garis khatulistiwa. Tak terhitung banyaknya lokasi yang perlu didatangi. Lokasi yang kerap dikunjungi saja, Pantai Trisik, misalnya, temuan jenis baru terjadi tak cuma sekali.

Memang, identifikasi burung pantai memiliki tantangan tersendiri. Banyak jenis tampak serupa, ukurannya kecil-kecil pula. Sebagian besar dijumpai dalam bulu tidak berbiak dengan warna yang monoton—kalau tidak coklat, ya abu-abu. Belum lagi lokasi pengamatan yang seringkali sangat terbuka dan panas tanpa teduhan.

Alat pun harus mumpuni. Kurangnya persiapan, misalnya tidak sarapan dan tanpa menggunakan penutup kepala, hanya akan membuat Anda jadi pengamat kunang-kunang.

Namun, suatu saat, mungkin ada jenis yang jadi rejeki Anda.

Older Posts »

Kategori