Oleh: peburungamatir | Februari 10, 2017

Berdaulat

burnes-logo

Dalam keriuhan penyelenggaraan konferensi burung di Denpasar beberapa waktu lalu, saya berkesempatan ngobrol dengan seseorang yang getol sekali dengan Atlas Burung Indonesia (ABI). Dia berupaya “meminang” sebagai pihak yang menjembatani kerjasama antara ABI dengan salah satu portal citizen science ornitologi global.

Tak usahlah disebut portalnya. Namun, si bapak getol sekali. Pertama dulu ia mengajukan melalui email setelah paper terkait ABI terbit (papernya monggo disedot di sini). Saat dalam obrolan, ia menawarkan diri lagi. Kalau melalui email saya tidak membalasnya, ini mau nggak mau harus jawab. Saya bilang, tidak tertarik.

“ABI telah berjalan sebagaimana terlihat,” saya mengawali. Ya, dalam satu sesi presentasi di forum itu, Kang Idjo (Rudyanto) sebagai salah satu pembicara kunci sekaligus Dewan Analisa ABI menyampaikan satu slide terkait progres pengerjaan atlas.

“Semua kami (orang Indonesia) yang kerjakan sendiri,” lanjut saya. “Kami yang memutuskan pengerjaannya (saat Pertemuan Pengamat Burung Indonesia di Tahura R. Soerjo, monggo dibaca di sini), mengupayakan sistem terbangun.” Lantas, ini yang penting, karenanya perlu sedikit memberi jeda di cuapan, “merintis aplikasi, namanya Burungnesia.”

Soal Burungnesia, ini memang perlu dikatakan banyak-banyak. Inilah senjata ampuh karya anak bangsa arek mbatu berjiwa filantropi, Swiss Winnasis Bagus Prabowo, yang mampu mengerek percepatan laju kontribusi data ke ABI. Sebelumnya, kecepatan data masuk sebanding dengan laju keong, saat ini seperti laju peregrine lapar mengejar mangsa.

Ketika bagi pengembang, yang menguntungkan adalah membuat aplikasi permainan, Kang Swiss, demikian sapaanya, malah membuat aplikasi untuk ndata burung. Bagi pemuja materi, usahanya itu masuk kategori nggak mbois blas! Ckckck… Tapi, penyusun Birds of Baluran yang monumental itu, punya orientasi jauh. Semoga rekening amal jariyah penggagasnya, jenderal-jenderal adminnya, seluruh kontributornya, akan terisi terus, selalu mengalir padanya hingga entah. Aamiin…

“Dari sisi ini, kami setara sebagaimana portal citizen science global itu,” saya melanjutkan. “Di empat bulan setelah diluncurkan, kami berhasil mengumpulkan 11 ribu entri, dari kontribusi orang Indonesia sendiri. Portal satunya itu, berapa?”

Lawan bicara yang juga pembicara kunci di konferensi itu, nggak bisa menjawab. Sedikit informasi, di saat ia presentasi, ia menyampaikan kalau di portal tersebut sangat sedikit orang Indonesia yang berkontribusi ke sana. Katanya kontribusinya perlu ditingkatkan.

Dalam obrolan, saya bilang padanya kalau sedikitnya itu karena para kontributor orang Indonesia telah berkontribusi melalui Burungnesia. “Kontributor kami sudah ribuan.”

Kok bisa? Tentu saja. Kontributor ABI menggunakan Burungnesia karena digerakkan oleh cita-cita yang sama. Sama-sama ingin berdaulat dalam keilmuan burung ini, yang telah sekian lama, di banyak lini, selalu dan selalu dikuasai oleh orang asing. Pada jurnal ornitologinya demikian. Buku-buku panduan lapangan burungnya, begitu juga.

Kalau semua-muanya dirayah, habis sudah. Lantas kapan orang Indonesia bisa pintar? Masa selalu hanya menjadi konsumen, cuma user, kontributor doang.

Atlas inilah cara menjadi berdaulat. Kerisnya bernama Burungnesia. Mpu Swiss bertutur banyak soal itu di sini.

“Kamu tidak tertarik masuk organisasi? Dari sana kamu bisa menggerakkan proyek atlas ini lebih jauh lagi,” tanya si bapak setelah upaya pinangannya gagal.

“Tidak, Pak.”

“Aneh sekali, di mana-mana proyek atlas dijalankan oleh satu organisasi. Tidak ada yang seperti atlas Indonesia ini,” kira-kira begitu yang dikatakannya.

“Sekarang ada contohnya. Indonesia memang aneh, kan?”

Di seluruh negara yang memiliki proyek atlas nasional, pengerjaannya itu dilakukan oleh organisasi formal tertentu. Rasa-rasanya hanya Indonesia ini yang berbeda. Atlasnya digerakkan oleh organisasi tanpa bentuk yang mengatasnamakan Pengamat Burung Indonesia. Organisasi yang bukan organisasi. Haha… Mau tunjuk alamat, nggak punya.

Begitulah. Sekali lagi, biar dengan bersusah-payah, tapi itu orang Indonesia sendiri yang punya. Kita kini berdaulat atas keilmuan. Kita disatukan dalam cita-cita bersama, menjadi merdeka.

Si bapak lantas merasa telah sampai pada ujung pembicaraan. Sambil menjabat tangan, ia berujar, “Sukses untuk atlasnya.”

Oleh: peburungamatir | Januari 12, 2017

Bikin field guide burung se-Indonesia

kolase-cover-buku-burung-wm_ak

Beragam buku burung di Indonesia. Foto oleh Ady Kristanto

Konon, hanya tinggal sedikit negara di dunia yang belum punya buku panduan lapangan burung. Dan, yes, termasuk Indonesia.

Memang ada beberapa terbitan yang levelnya Indonesia Raya, tapi itu semua di luar kategori field guide. Dari kategori daftar jenis (checklist) misalnya, sudah ada beberapa. Untuk genre photographic guide, panduan (berbasis) foto, A Photographic Guide to the Birds of Indonesia telah terbit dua edisi. Di level practical guide, ada Birding Indonesia yang terbit 1997.

Sementara trilogi panduan lapangan SKJB-Wallacea-Papua, meski monumental, tidak masuk hitungan karena terbit terpisah. Masing-masing berbeda, baik penyusun, tampilan, isi, sampai gayanya.

Buku yang baru-baru ini diterbitkan raksasa Lynx Edicions, meski mengusung judul Indonesia, luput memasukkan Papua. Justru burung dari beberapa negara lain yang dimasukkan.

Lantas terlintas di pikiran, mengapa hingga saat ini belum pernah ada field guide burung se-Indonesia?

Pondasi ornitologi sudah sangat kuat. Tradisi keilmuannya sudah terbangun mulai berabad silam sumbangan banyak pakar kaliber dunia, macam Thomas Horsfield, Alfred Russel Wallace, Erwin Stresemann, hingga Pamela Rasmussen dan Nigel Collar mewakili era kekinian.

Kekayaan jenis burung negara ini, toh ‘hanya’ nangkring di nomor empat. Colombia sang juara dunia, yang avifaunanya 1.900-an jenis, bahkan sudah dua kali menerbitkan Field Guide to the Birds of Colombia. A Guide to the Birds of Colombia malah sudah terbit tiga puluh tahun lalu. Jumlah burungnya pada saat itu nyaris 1.700 jenis, hampir sama dengan Indonesia saat ini.

Negeri ini punya otoritas keilmuan, ada organisasi profesi yang mewadahi para peneliti burung, ada banyak organisasi pemerhati dan pengamat burung. Masing-masing sudah punya pengalaman menerbitkan buku panduan burung. Dibuat cara keroyokan bisa lah sebenarnya. Tapi kayaknya belum ada ya yang berani coba?

Mbok bikin dong, field guide burung se-Indonesia.

Oleh: peburungamatir | Januari 2, 2017

Panduan Lapangan Burung se-Indonesia?

Sampul 'Birds of Indonesian Archipelago'

Sampul ‘Birds of Indonesian Archipelago’

Penghujung 2016 ditandai oleh hadirnya sebuah buku panduan lapangan burung yang menyentuh kawasan tanah air, Birds of the Indonesian Archipelago-Greater Sundas and Wallacea. Dalam beragam ulasan maupun diskusi forum, buku tersebut banyak mendapat apresiasi positif.

Karya itu ibarat avant garde dunia ornitologi. Ia mampu mengawinkan dua biogeografi—Sunda Besar dan Wallacea—dalam satu jilid, mendobrak acuan mapan dalam taksonomi atau memperkenalkan istilah ‘limbo split’ agar pembaca aware akan kemungkinan pemisahan jenis yang tak banyak disebut di publikasi mainstream. Bahkan, pustaka bersampul putih itu menyuguhkan pada khalayak 18 jenis burung yang belum dideskripsikan (undescribed species) dan beberapa di tingkat subspesies, lengkap dengan ilustrasi, peta, dan uraian informasi dasar jenis itu.

Terbitan Lynx Edicions itu memasukkan lebih dari 2.500 ilustrasi. Akurasinya menonjol, dan keberadaan beragam anak jenis banyak terwakili. Benar-benar memanjakan mata.

Hingga kekeliruan yang ada, seperti menyebut Garrulax rufifrons sebagai monotipik atau lembar gambar hal. 137 yang menutup warna putih jadi abu-abu, seakan dapat dimaklumi. Informasi distribusi yang ditumpukan terutama pada peta, sebagaimana kebanyakan panduan, terbukti meleset atau terlalu optimis.

Peta Black-thighed Falconet, tidak memasukkan Jawa untuk distribusinya. Jambu Fruit Dove, yang hanya ada beberapa lokasi perjumpaan di Jawa Barat, di warna hijau untuk seluruh Jawa. Begitu pula Black Baza. Adakah jenis-jenis itu pernah dijumpai di Jawa Timur?

Informasi, seperti keberadaan paruh-kodok di Siberut, terlewat. Tidak ada penjelasan mengenai keberadaannya. Begitu pula dengan sejenis Ninox yang dijumpai di G. Rorekatimbu, Sulawesi Tengah. Sebagai undescribed taksa, temuan Buttu Madika dan Fachry Nur Mallo pada 1999 itu tidak dimasukkan.

Banyak lagi kekeliruan yang bisa ditambahkan sendiri. Namun, yang paling mengusik sebenarnya ada pada pilihan judul buku ini. Meski di paragraf pembuka, para penyusun sebenarnya sudah memasang tameng definisi versi mereka sendiri, bahwa ‘Indonesian Archipelago’ yang digunakan bukan bermakna (geo)politik, melainkan biogeografi.

Atas batasan istilah itulah, Papua tidak dimasukkan. Sementara Brunei, Malaysia, Timor Leste, masuk. Alasan makin dikuatkan dengan argumen bahwa bila Papua masuk, akan ada beratus jenis yang harus diuraikan. Konsekuensinya, halaman akan makin bertambah. Harga produksi tentu akan melambung tinggi.

Tentu akan banyak yang mengamini pembenaran tersebut. Dengan bandrol £65 (nyaris 1,1 juta rupiah), buku itu tidak murah. Tambahan berlembar-lembar tentu menjadikannya tidak lagi ekonomis dan sulit terjangkau banyak orang.

Ya, mungkin alasan-alasan tersebut sah-sah saja, lha wong ini kan urusannya jualan, nggak ada kaitannya lah sama ideologi. Sekadar info, Lynx akan segera mengeluarkan edisi Papua (mencakup juga Papua Nugini) di buku tersendiri. Monggo menabung dari sekarang buat yang berminat beli.

Namun menurut saya, dengan kenyataan seperti itu sebenarnya jauh lebih bijak bila nama Indonesia tidak dicantumkan sekalian. Kalau batasannya biogeografi (untuk konsistensi pilihan definisi yang dipakai), cukup saja judul Birds of Greater Sundas and Wallacea yang tercantum. Pasti tidak ada orang Malaysia, Brunei atau Timor Leste yang tersakiti.

Pada sampul belakang tertulis, the first ornithological field guide covering the vast chain of the Indonesian archipelago. Lagi-lagi, menurut saya, ya enggak segitunya.

Buku ini bagus. Seluruh penyusunnya bergelar doktor di bidang ornitologi. Pengetahuannya mumpuni dan tak perlu diragukan lagi.

Kalau ada yang mau pinjam atau lihat-lihat, saya ada. Nggak mampu beli sebenarnya, itu atas kebaikan Kang Hary Susanto legenda hidupnya Karimunjawa. Cuma, maaf, isinya tidak mewakili Indonesia. Masih belum ada buku panduan lapangan untuk burung se-Indonesia. Indonesia Raya lho ya.

NB: Buku burung yang melingkupi Indonesia baru A Photographic Guide to the Birds of Indonesia. Sudah dua kali terbit. Namun, wujudnya bukan panduan lapangan.

DATA BUKU 

Judul : Birds of the Indonesian Archipelago-Greater Sundas and Wallacea

Penyusun: James A. Eaton, Bas van Balen, Nick W. Brickle & Frank E. Rheindt

Tahun terbit: 2016

Halaman : 496 halaman

Penerbit : Lynx Edicions (Barcelona)

Older Posts »

Kategori