Lanskap Jatimulyo_IT

Bentang alam Jatimulyo

Terjemahan bebas dari artikel Birds and coffee: community-led conservation in Jatimulyo village, Yogyakarta, Java, Indonesia (BirdingASIA 32: 108-111, 2019)
oleh Imam Taufiqurrahman, Sidiq Harjanto dan Kelik Suparno

Jatimulyo terletak di Perbukitan Menoreh, barat Yogyakarta. Desa ini berada pada singkapan kars dari era awal Miosen yang dikenal sebagai Formasi Jonggrangan, di area yang sebagian besar kawasannya berupa batuan gunung api tua (Maryanto 2013). Luas desa terentang lebih dari 1.600 hektare di ketinggian antara 300-800 meter dan didominasi oleh ekosistem agroforestri yang mencakup sekitar 80% dari seluruh area, dengan keberadaan berbagai macam tanaman perkebunan, di antaranya cengkeh Syzigium aromaticum, sengon Albizia chinensis, aren Arenga pinnata, kelapa Cocos nucifera, pisang Musa sp, dan kopi Coffea canephora. Terdapat sekitar 2.000 rumah tangga, dengan total jumlah penduduk mencapai 6.800 jiwa. Desa ini menjadi salah satu area penting untuk burung di Yogyakarta (Taufiqurrahman et al. 2015) dan hingga saat ini telah tercatat 99 jenis (Lampiran 1), mencakup sekitar 25% dari total jenis burung yang ada di Yogyakarta .

Menyadari pentingnya melindungi lingkungan hidup, pada 2014 pemerintah desa mengeluarkan aturan bernama ‘Peraturan Desa No 8/2014 tentang Pelestarian Lingkungan Hidup’. Salah satu butir peraturan melarang perburuan dan penangkapan semua jenis burung, juga beberapa jenis mamalia, seperti musang luwak Paradoxurus hermaphroditus dan trenggiling Manis javanica. Butir pasal lain mengatur tentang perlindungan kawasan mata air, sampah, dan sebagainya. Siapapun yang melanggar aturan tersebut akan dikenai sanksi hukuman.

Meski bertujuan positif, peraturan desa tersebut dapat menimbulkan persoalan sebab anggota masyarakat yang biasa menangkap dan menjual burung akan kehilangan pendapatan. Sikatan cacing Cyornis banyumas menjadi yang paling bernilai jual tinggi kala itu, dengan burung dewasa dapat dijual seharga 750.000 rupiah dan anakan 250.000 rupiah. Menurut Indriyani (2014), pemanenan yang tidak berkelanjutan di area ini menjadi ancaman utama. Jenis paling bernilai berikutnya adalah empuloh janggut Alophoxius bres, seharga 500.000 rupiah dengan anakan 150.000 rupiah. Jenis burung kicau lain, seperti kucica kampung Copsychus saularis [fauna identitas Kulon Progo], perenjak jawa Prinia familiaris, kacamata biasa Zosterops melanurus, dan anis merah Geokichla citrina telah menjadi sangat jarang atau bahkan mungkin mengalami kepunahan lokal akibat perburuan berlebih.

Gambar 2. Habitat kopi dalam naungan

Gambar 2. Habitat kopi dalam naungan

[Di sisi lain] pengolahan kopi sebagai salah satu sumber pendapatan warga telah ditinggalkan semenjak sekitar 1990 seiring jatuhnya harga kopi di pasaran. Meski demikian, masyarakat tetap membiarkan tanaman kopi tumbuh dan terus berkembang secara alami hingga mencapai 2-5 meter yang ternaungi oleh tajuk tanaman lain, seperti cengkeh atau aren setinggi 7-10 meter dan juga berbagai tanaman alami setinggi lebih dari 10 meter, sehingga membentuk sistem kopi naungan yang baik (Gambar 2), yang dapat memberi sumbangan pada ekonomi setempat serta memiliki peran penting dalam konservasi burung dan habitatnya (O’Connor 2005, Chang et al. 2018). Atas dasar ini, Yayasan Kutilang Indonesia dan Komunitas Peduli Menoreh memulai sebuah program konservasi berbasis komunitas terkait burung dan kopi, dengan keterlibatan kuat dari masyarakat setempat. Tujuan dari program mandiri yang dimulai pada Juni 2015 ini terutama untuk mendukung peraturan desa Jatimulyo 8/2014 melalui upaya mengalihkan praktik pemanenan burung liar ke produksi kopi.

Dalam kurun waktu empat tahun berproduksi hingga 2019, lebih dari 50 warga pekebun, yang beberapa di antaranya dulu pemburu, terlibat dan mendapatkan pemasukan dari menjual kopinya–sekitar 7,5 ton buah yang telah diolah, bernilai sekitar 41 juta rupiah. Hasil olahan dinamai Kopi Sulingan, nama setempat dari sikatan cacing, yang menyimbolkan sikap positif warga dalam pelestarian satwa liar dan habitatnya.

Dari keuntungan hasil penjualan kopi, satu program terkait adopsi sarang kemudian dimulai pada 2016, dengan sikatan cacing sebagai prioritas utama mengingat populasinya yang menurun seiring pemanenan berlebih yang telah berlangsung lama. Pada awalnya, program dijalankan oleh beberapa mantan pemburu dalam wadah non-formal bernama Masyarakat Pemerhati Burung Jatimulyo. Seiring waktu kegiatan komunitas ini kian berkembang mencakup juga meliponikultur [budidaya klanceng atau lebah tanpa sengat], penjualan madu serta kemasan gula aren dan gula kelapa–secara alami musang luwak menjadi agen penyebar biji aren, tanaman yang masih cukup sulit dibudidaya. Pada Desember 2018, dari wadah non-formal tersebut kemudian dibentuklah Kelompok Tani Hutan Wanapaksi.

Adopsi sarang ini dijalankan agar banyak pihak di masyarakat dapat memperoleh keuntungan langsung dari melindungi burung. Ketika burung diambil hanya pemburu yang mendapatkan keuntungan, namun melalui adopsi sarang nilai ekonomi dapat terbagi ke pemilik lahan, penemu sarang (yang biasanya mantan pemburu) dan komunitas di masyarakat. Pada awal program, insentif yang diberikan bernilai antara 150.000-300.000 rupiah per sarang, dikelola oleh Kelompok Tani Hutan Wanapaksi untuk diserahkan ke pemilik lahan, penemu sarang, dan komunitas setempat. Peruntukan bagi komunitas di antaranya guna membiayai operasional program, seperti memasang papan informasi adopsi, membangun tempat pengintaian untuk monitoring dan penelitian perilaku bersarang, serta dikumpulkan untuk membeli peralatan yang dapat digunakan bersama, seperti tikar [untuk rapat atau kumpulan], bak-bak sampah, instalasi penerangan jalan atau kebutuhan lain tergantung kesepakatan bersama.

Kelompok Tani Hutan Wanapaksi menjadi pengelola skema ini; awalnya insentif uang yang diberikan senilai Rp 150-300 ribu, kini meningkat menjadi Rp 500.000. Meskipun meningkat, dana insentif tersebut masih terbilang rendah bila dibandingkan dengan harga jual burung di pasaran, dan ini menjadi tantangan tersendiri untuk bisa meningkatkannya. Namun demikian, tujuan awal dari program adopsi sarang ini adalah untuk meningkatkan rasa kepemilikan warga terhadap burung liar dengan cara memberikan nilai ekonomi langsung ketika burung dijaga. Harapannya, hal tersebut akan mengubah pandangan awal burung sebagai hak milik ke pemahaman bahwa burung juga harus dilindungi bersama sehingga mendorong tiap pemilik lahan untuk menjaga habitat. Ini bisa jadi merupakan inisiatif pertama di Indonesia, dan yang pertama menarget jenis-jenis burung kicau.

Selain sikatan cacing, jenis target adopsi yang lain adalah empuloh janggut, kacamata biasa, cucak kuning, kehicap ranting Hypothimis azurea, cekakak jawa Halcyon cyanoventris, dan lima burung pemangsa penetap: elang hitam Ictinaetus malaiensis, elang-ular bido Spilornis cheela, elang brontok Nisaetus cirrhatus, elang-alap jambul Accipiter trivirgatus, dan alap-alap sapi Falco moluccensis. Hingga pertengahan 2019, program adopsi sarang telah berjalan 15 kali untuk: sikatan cacing (empat kali), cekakak jawa (enam kali), elang-alap jambul dan kehicap ranting (masing-masing dua kali) serta empuloh janggut (satu kali). Hingga saat ini telah tujuh pihak, baik perorangan maupun institusi yang turut terlibat sebagai pengadopsi.

Tingginya keragaman jenis burung yang ada serta kuatnya komitmen perlestarian dari warga menjadi dasar utama untuk mengangkat Jatimulyo sebagai lokasi tujuan pengamatan burung yang mampu menarik kunjungan pengamat dan fotografer burung. Pada November 2018, bekerjasama dengan Paguyuban Pengamat Burung Jogja dan komunitas setempat, Jatimulyo menjadi lokasi penyelenggaraan ‘Pertemuan Pengamat Burung Indonesia VIII’ yang dihadiri 100 peserta. Pengamat dan fotografer burung dari mancanegara juga tertarik untuk berkunjung dan jumlahnya kian meningkat seiring waktu.

Pada 2018, dari program konservasi berbasis komunitas ini, desa kemudian mendapat dua pengakuan: KS menjadi kader konservasi peringkat III dalam Lomba Wana Lestari tingkat nasional yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan desa Jatimulyo mendapat penghargaan sebagai Desa Konservasi dari Balai Konservasi Sumber Daya Yogyakarta .

Pekerjaan selanjutnya terkait peningkatan kualitas skema adopsi sarang, kajian ekologi dan biologi burung, serta aspek sosial konservasi sangat dibutuhkan. Perluasan program ke desa-desa lain di Perbukitan Menoreh juga penting untuk dilakukan. [Dengan ini] kami juga berharap akan makin banyak lagi pengamat dan fotografer burung datang berkunjung ke Jatimulyo, yang akan mampu memberi kontribusi besar dan meningkatkan dampak dari konservasi burung pada desa.

Ucapan terima kasih
Kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Ige Kristianto Muladi, mantan direktur eksekutif Yayasan Kutilang Indonesia, atas kontribusi luar biasanya pada program, Pak Guyub dan almarhumah Bu Ngatini untuk hangatnya penerimaan selama berbilang tahun, Pak Suisno dan keluarga, juga SwaraOwa atas bantuan dan dorongannya. Kami berterima kasih pada Paguyuban Pengamat Burung Jogja dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Yogyakarta (BKSDA DIY), serta Swiss Winnasis atas dukungannya. Terima kasih sebesar-besarnya pada para pengadopsi sarang: Yayasan Kanopi Indonesia; Tri Winarno (Tronter Auto Service); Widodo (Rumah Makan Baleroso); Imelda Mayasari Iriyono; Teguh Santosa; Kenkyona Kaila Galdes dan Desy Ayu Triana; Arsa Hylmi Sagara dan Yulia ES. Terima kasih pada Pak Anom Sucondro, kepala desa dan para perangkatnya serta seluruh warga desa Jatimulyo atas komitmen yang demikian kuat dalam pelestarian burung.

Referensi
Chang, C. H., Karanth, K. K. & Robbins, P. (2018) Birds and beans: comparing avian richness and endemism in arabica and robusta agroforests in India’s Western Ghats. Scientific Reports 8: 3143. DOI:10.1038/s41598-018-21401-1.
Gill, F. & Donsker, D. (2019) IOC World Bird List (v 9.2). Doi 10.14344/IOC.ML.9.2. http://www.worldbirdnames.org/
Indriyani, N. (2014) Karakteristik sarang dan habitat burung sikatan cacing (Cyornis banyumas (Horsfield, 1821)) di kawasan karst Menoreh. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada.
Maryanto, S. (2013) Sedimentologi batugamping Formasi Jonggrangan di sepanjang lintasan Gua Kiskendo, Girimulyo, Kulonprogo. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral 23 (2): 105-120.
O’Connor, T. R. (2005) Birds in coffee agroforestry systems of West Lampung, Sumatra. Dissertation. Adelaide: School of Social Sciences, University of Adelaide.
Taufiqurrahman, I., Yuda, I. P., Untung, M., Atmaja, E. D. & Budi. N. S. (2015) Daftar Burung Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Yayasan Kutilang Indonesia.

Imam TAUFIQURRAHMAN
Yayasan Kutilang Indonesia
Dusun Kalipentung, Desa Kalitirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta, Indonesia

Sidiq HARJANTO
Komunitas Peduli Menoreh

Kelik SUPARNO
Divisi Konservasi Kelompok Tani Hutan Wanapaksi
Dusun Gunungkelir, Desa Jatimulyo
Perbukitan Menoreh, Yogyakarta, Indonesia

Lampiran 1. Daftar jenis burung Desa Jatimulyo (taksonomi mengacu Gill & Donsker 2019)
Kuntul kerbau Bubulcus coromandus
Ayam-hutan hijau Gallus varius
Sikep-madu asia Pernis ptilorhynchus
Elang-ular bido Spilornis cheela
Elang brontok Nisaetus cirrhatus
Elang-alap jambul Accipiter trivirgatus
Elang-alap cina Accipiter soloensis
Elang-alap jepang Accipiter gularis
Elang hitam Ictinaetus malaiensis
Elang kelabu Butastur indicus
Gemak loreng Turnix suscitator
Tekukur biasa Spilopelia chinensis
Uncal buau Macropygia emiliana
Delimukan zamrud Chalcophaps indica
Walik kembang Ptilinopus melanospilus
Kadalan birah Phaenicophaeus curvirostris
Wiwik lurik Cacomantis sonneratii
Wiwik kelabu Cacomantis merulinus
Wiwik uncuing Cacomantis sepulcralis
Kedasi hitam Surniculus lugubris
Serak bukit Phodilus badius
Ccelepuk reban Otus lempiji
Beluk jempuk Owl Bubo sumatranus
Tepekong jambul Hemiprocne longipennis
Walet linci Collocalia linchi
Walet sarang-putih Aerodramus fuciphagus
Kapinis rumah Apus nipalensis
Kapinis laut Apus pacificus
Cekakak jawa Halcyon cyanoventris
Cekakak sungai Todiramphus chloris
Udang api Ceyx erithaca
Raja-udang meninting Alcedo meninting
Kirik-kirik senja Merops leschenaulti
Takur bultok Psilopogon lineatus
Takur tulung-tumpuk Psilopogon javensis Near Threatened
Takur tohtor Psilopogon armillaris
Tukik tikus Sasia abnormis
Caladi tilik Yungipicus moluccensis
Pelatuk besi Dinopium javanense
Alap-alap sapi Falco moluccensis
Alap-alap kawah Falco peregrinus
Paok hijau Pitta sordida
Jingjing batu Hemipus hirundinaceus
Cipoh kacat Aegithina tiphia
Sepah kecil Pericrocotus cinnamomeus
Sepah hutan Pericrocotus flammeus [di artikel tertulis Pericrocotus miniatus]
Kancilan bakau Pachycephala cinerea
Bentet kelabu Lanius schach
Srigunting kelabu Dicrurus leucophaeus
Kipasan belang Rhipidura javanica
Kehicap ranting Hypothymis azurea
Seriwang jepang Terpsiphone atrocaudata Near Threatened
Gagak hutan Corvus enca
Gagak kampung Corvus macrorhynchos
Gelatik-batu kelabu Parus cinereus
Cucak kuning Pycnonotus dispar Vulnerable
Cucak kutilang Pycnonotus aurigaster
Merbah cerukcuk Pycnonotus goiavier
Empuloh janggut Criniger bres
Layang-layang asia Hirundo rustica
Cikrak daun Phylloscopus trivirgatus
Cikrak kutub Phylloscopus borealis
Perenjak coklat Prinia polychroa
Perenjak jawa Prinia familiaris Near Threatened
Perenjak padi Prinia inornata
Cinenen pisang Orthotomus sutorius
Cinenen kelabu Orthotomus ruficeps
Cinenen jawa Orthotomus sepium
Tepus pipi-perak Stachyris melanothorax
Ciung-air coreng Macronus bornensis
Ciung-air jawa Macronus flavicollis
Pelanduk semak Malacocincla sepiaria
Pelanduk topi-hitam Pellorneum capistratum
Kacamata biasa Zosterops melanurus
Munguk beledu Sitta frontalis
Anis kuning Turdus obscurus
Ciung-batu siul Myophonus caeruleus
Sikatan bubik Muscicapa dauurica
Sikatan cacing Cyornis banyumas
Sikatan biru-putih Cyanoptila cyanomelana
Meninting besar Enicurus leschenaulti
Meninting kecil Enicurus velatus
Sikatan belang Ficedula westermanni
Sikatan bodoh Ficedula hyperythra
Sikatan besi Muscicapa ferruginea
Sikatan sisi-gelap Muscicapa sibirica
Cabai bunga-api Dicaeum trigonostigma
Cabai jawa Dicaeum trochileum
Burung-madu belukar Chalcoparia singalensis
Burung-madu kelapa Anthreptes malacensis
Burung-madu pengantin Leptocoma brasiliana
Burung-madu sriganti Cinnyris jugularis
Burung-madu jawa Aethopyga mystacalis
Pijantung kecil Arachnothera longirostra
Pijantung besar Arachnothera robusta
Pijantung gunung Arachnothera affinis
Burung-gereja erasia Passer montanus
Bondol jawa Lonchura leucogastroides
Bondol haji Lonchura maja

Oleh: peburungamatir | Maret 14, 2019

Burung Lombok dan Sumbawa, a truly local guide-nya NTB

Sampul Burung Lombok dan Sumbawa

Sampul Burung Lombok dan Sumbawa

Empat belas tahun lalu Rudyanto, akrab disapa Kang Ijo, mengungkapkan kebutuhan akan ketersediaan buku panduan burung dalam skala lokal di Indonesia. Buku “Seri Keanekaragaman Hayati: Burung Lombok dan Sumbawa” karya Saleh Amin dan Muhamad Salamuddin Yusuf ini menjadi salah satu jawabannya.

The local club on Sumba needs a Sumbanese guide,” ujar Kang Ijo kala itu sebagaimana tertuang dalam artikel di World Birdwatch. “They can find the birds of Sumba in the guide to Wallacea, but it’s just too big, with too many birds not found in Sumba. And the species may be the same as Sulawesi or Halmahera, but plumage coloration and pattern can be different,” terang generasi pertama pengamat burung Indonesia ini. “A truly local guide could cover this,” pungkasnya.

Perlahan hal itu terwujud. Dari lokasi yang dicontohkan Kang Ijo, telah tersedia buku “Burung-burung Taman Nasional Matalawa” yang terbit 2018 (sedikit ulasannya bisa dibaca di sini). Kemudian hadir buku burung Lombok dan Sumbawa ini.

Ale dan Pak Alam, demikian para penyusun saya sapa, tau betul yang penting untuk disajikan. Lombok dan Sumbawa memang satu provinsi, namun keragaman jenis burungnya berbeda.

Buku Burung Lombok dan Sumbawa mampu jadi penyuguh informasi paling spesifik dan terkini untuk pulau-pulau di Nusa Tenggara Barat tersebut. Contoh terbaik yang menunjukkan betapa tinggi dan berbedanya endemisitas Lombok dan Sumbawa, bisa terlihat pada yang tertulis dalam buku sebagai perkici pelangi Trichoglossus haematodus [Berbagai rujukan kini menyebut jenis yang ada di Lombok dan Sumbawa dengan nama perkici dada-merah Trichoglossus forsteni, membedakan dengan perkici pelangi yang sebarannya melingkupi pulau-pulau di Maluku tengah dan Papua Barat]. Lombok dihuni oleh anak jenis mitchellii (sebarannya dulu termasuk Bali, namun kini diperkirakan telah punah), sementara di Sumbawa forsteni.

Masing-masing anak jenis endemik tersebut terwakili dalam foto. Dan itu meneguhkan kalau jenis tersebut masih ada di alam. Dua anak jenis lain, yakni djampeanus yang menghuni Pulau Tanahjampea dan stresemanni di Pulau Kalaotoa—keduanya di Sulawesi—ditengarai telah punah. Bila itu benar, artinya keberadaan perkici dada-merah di dunia hanya tinggal terwakili di Lombok dan Sumbawa.

Namun, jangan bangga dulu. Tanda merah tercantum untuk jenis tersebut. Menurut penyusunnya, itu berarti langka dan sangat sulit dijumpai, dengan peluang perjumpaan dan wilayah yang ditempati di bawah 25%. Sementara populasinya diberi warna abu-abu, artinya kurang dari 500 ekor. Status globalnya yang Vulnerable sepertinya harus ditinjau ulang.

Secara keseluruhan, Lombok punya empat taksa endemik (satu di tingkat spesies, tiga di tingkat subspesies) dan Sumbawa tujuh, yang seluruhnya di tingkat subspesies. Buku ini berhasil menyuguhkan informasi dan foto nyaris seluruhnya. Itu luar biasa.

Pembaca kemudian bisa mengetahui sosok taksa-taksa endemik yang ada. Hanya satu yang tidak diuraikan, yakni opior flores Lophozosterops superciliaris hartertianus dari Sumbawa. Mungkin karena pertimbangan belum tersedianya foto yang mewakili.

Menyinggung soal foto, buku ini menyajikannya dengan kualitas yang layak diacungi jempol. Di hampir tiap jenis, tersaji dua atau tiga foto yang itu menunjukkan variasi dimorfisme antara jantan dan betina atau anakan, perbedaan di saat bertengger dan terbang, atau burung dalam bulu berbiak dan bulu tak berbiak. Paling hanya di sikep-madu asia yang rasanya agak berlebihan karena harus dibombardir dengan 11 foto, semua dalam posisi terbang. Tapi, itulah Ale, eh, itulah yang kemudian menunjukkan bahwa stok foto berkualitas dari Nusa Tenggara Barat berlimpah ruah.

Artinya, para pengamat dan fotografernya rajin. Lombok punya Kelompok Pengamat Burung Kecial dengan Ale sebagai salah satu pendirinya, Sumbawa sisi barat rutin dijelajahi Pak Alam, dan Sindikat Fotografer Wildlife Bima Dompu—yang militansinya bikin goyang kepala—menguasai sisi timur. Maka, tak heran bila dalam buku ini tersaji 234 dari total 298 jenis burung yang tercatat (nyaris 80%) dengan jumlah foto mencapai lebih dari 500 buah.

Sebagai yang terkini, buku bersampul cekakak kalung-cokelat ini menyuguhkan banyak temuan baru. Beberapa highlight, misalnya cabak mees temuan M. Olan Wardiansyah di Sumbawa. Sebelumnya, jenis ini dianggap sebagai endemik Flores dan Sumba, Nusa Tenggara Timur. Kemudian camar punggung-abu yang menjadi catatan pertama kehadirannya di Indonesia hasil temuan Andi Albayquni di Lombok. Buku ini memperkenalkan nama Indonesianya. Perjumpaan burung-sepatu teratai di Sumbawa menjadi yang pertama tak hanya untuk Nusa Tenggara, namun juga Wallacea.

Sedikit yang membuat bertanya-tanya adalah pada pencantuman warna di peta sebaran beberapa jenis. Bangau sandang-lawe, penetap, namun diberi warna kuning yang artinya pendatang. Juga cangak laut, berkik-kembang besar, caladi tilik, wiwik uncuing, dan layang-layang loreng. Sementara mandar bontod, gajahan penggala, dan dara-laut benggala yang merupakan jenis pendatang, diberi warna hijau, yang artinya penetap. Adakah temuan berbiak mereka di Lombok dan Sumbawa?

Dari foto jenis, yang tertampil untuk cerek-pasir mongolia adalah cerek-pasir besar. Paruhnya tebal dan kokoh, dengan kaki berwarna kuning.

Namun, lepas dari itu saya yakin buku ini akan mencapai sebagaimana yang jadi harapan penyusunnya. A truly local guide, meminjam istilah Kang Ijo, yang hadir sebagai penggerak dan pendukung kegiatan konservasi di Nusa Tenggara Barat. Sruput kopi untuk ini. Selamat!

Data Buku
Judul: Seri Keanekaragaman Hayati: Burung Lombok dan Sumbawa
Penyusun: Saleh Amin dan Muhamad Salamuddin Yusuf
Tahun: 2018

Oleh: peburungamatir | Oktober 13, 2018

Mari Bercerita

Mari bercerita
tentang bunga-bunga ungu yang daunnya menghampar di rawa
lantai berpijak burung-burung putih dari utara
tempat katak menambatkan harap

atau sesekali hati kita saja yang bicara
cukup dalam diam
bahasa yang sederhana

karena seperti yang kau bilang
lugas itu perjuangan

11 Okt 2011

Older Posts »

Kategori