Oleh: peburungamatir | April 14, 2017

BirdingASIA 26 dan arti penting kontribusi Indonesia

BirdingASIA26-cover

Wajah sampul BirdingASIA 26 dengan foto paruh-kodok tanduk karya Syahputra. Sumber dari laman orientalbirdclub.org

BirdingASIA 26 yang baru-baru ini sampai di tangan pembaca memberi arti tersendiri untuk Indonesia. Di edisi inilah kali pertama foto anak bangsa mejeng sebagai cover, atas nama Syahputra.

Secara teknis, saya tidak akan berkomentar banyak tentang foto induk dan anakan paruh-kodok tanduk di sarang yang terpajang jadi sampul itu. Foto itu jadi salah satu yang menyertai artikel Putra bersama Bang Iqbal, mengungkap perkembangbiakan si paruh-kodok tanduk, termasuk info mengenai perilaku pengasuhan dan makanannya (silahkan unduh artikel di sini).

Artikel sepanjang tujuh halaman, lengkap dengan 10 foto ciamik Putra tersebut tidak hanya menarik, tapi penting. Pertama, ada empat sarang aktif yang ditemukan dalam nyaris setahun rentang pengamatan, dan itu menjadi indikasi awal bahwa periode berbiak paruh-kodok tanduk berlangsung sepanjang tahun.

Temuan berikutnya mengenai perilaku pengasuhan. Terungkap bahwa jantan dan betina mengeram secara bergantian. Ini persis sebagaimana banyak disebut dalam rujukan, yakni jantan pada siang hari, sementara betina di malam hari. Namun, kebanyakan perjumpaan adalah di siang hari, saat giliran jantan di sarang. Temuan Putra lengkap dengan foto betina di sarang terbilang sangat jarang. Itulah sepertinya yang lantas menjadikan fotonya terpampang di muka majalah; ia penting secara ilmiah dan berkualitas secara fotografi.

Ditambah jenis-jenis pakan yang tercatat saat pengamatan, temuan itu lantas menjadi sumbangan karya dari Putra dan Bang Iqbal yang makin memberi warna di majalah enam bulanan terbitan OBC tersebut. Ya, sebagai salah satu negara penting di kawasan Oriental, artikel-artikel dari Indonesia selalu bermunculan, nyaris di tiap edisi. Edisi tutup tahun ini saja terdapat delapan artikel, tiga di antaranya dengan penulis utama orang Indonesia.

Selain Putra, ada paper Pak Wayan yang mengungkap kekayaan burung Taman Wisata Alam Kerandangan, Lombok. Kawasan yang menjadi lokasi berlangsungnya Pertemuan Pengamat Burung Indonesia keenam itu menjadi habitat bagi banyak jenis penting, seperti celepuk rinjani, elang flores, paok laus, dan banyak lagi. Meski begitu, harus diakui, cukup sulit menemukan jenis-jenis menarik tersebut, terlebih saat beratus pengamat burung datang nggruduk.

Satu artikel lainnya ditulis Bang Iqbal bersama empat orang mengenai manyar jambul dan manyar tempua yang semakin banyak ditemukan di Sulawesi dan Nusa Tenggara. Di kawasan yang menjadi sebaran alaminya, seperti di Jawa, keberadaan jenis ini malah semakin jarang.

Tiga artikel orang Indonesia ini tentu saja menerbitkan kebanggaan tersendiri. Lebih-lebih karena di edisi ini, sebagaimana edisi-edisi sebelumnya, selalu ada nama baru bermunculan, baik sebagai penulis utama (first author), maupun penulis pendamping (co-author). Dan tanp ragu menyebut, Bang Iqbal-lah orang yang banyak berperan di situ. Ia terlibat di banyak terbitnya artikel-artikel orang Indonesia. Keterlibatannya lengkap, ia mendorong, memberi semangat, membantu, mendampingi, membagi pengetahuannya. Di tengah padat kesibukannya, kesemua itu tak menyurutkannya. Ia bahkan menjadi salah satu penulis paling produktif di majalah ini!

Dalam catatan saya, kontributor paling produktif di BirdingASIA adalah Nigel J. Collar. Ada 27 sumbangan karyanya; 20 artikel sebagai penulis utama dan tujuh lainnya sebagai penulis pendamping. Sementara Bang Iqbal berada di urutan kedua. Kontribusi putra Palembang ini tercatat sebanyak 21 artikel; 16 sebagai penulis utama dan lima lainnya sebagai penulis pendamping.

Dari total 129 artikel mengenai perburungan Indonesia di BirdingASIA, kontribusi Bang Iqbal telah mencapai 16%. Kalau dilihat secara umum, kontribusi penulis Indonesia di BirdingASIA memang masih jauh di bawah penulis asing. Jumlah kontribusi anak bangsa masih di sekitar 31% dari total artikel perburungan tanah air. Namun, mari melihat dengan penuh optimis.

Di geliat perburungan Indonesia saat ini, di semakin bertumbuhnya aktifitas mengamati burung dan fotografi satwa liar, akan banyak lagi temuan-temuan penting yang kemudian dituliskan dan menjadi sumbangsih kita pada kemajuan perburungan negeri.

Selamat untuk para kontributor. Salut untuk prestasi membanggakan ini.

Artikel Indonesia di BirdingASIA 26

Syahputra & M. Iqbal. 2016. Breeding records of Sunda Frogmouth Batrachostomus cornutus on Bangka island, Sumatra, Indonesia, with information on parenting behaviour and diet. BirdingASIA 26: 32-38.

Suana, I W., S. Amin, H. Ahyadi, L.A.T.T.W.S. Kalih & G. Hadiprayitno. 2016. Birdwatching in Kerandangan Natural Park, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. BirdingASIA 26: 8-15.

Iqbal, M., K.J. Shagir, N.S. Hamzati, I. Hariadi & O. Ilalang. 2016. Status of Streaked Weaver Ploceus manyar and Baya Weaver P. philippinus in Wallacea, Indonesia. BirdingASIA 26: 115-117.

Chng, S.C.L., M. Guciano & J.A. Eaton. 2016. In the market for extinction: Sukahaji, Bandung, Java, Indonesia. BirdingASIA 26: 22-28.

Trainor, C.R. & P. Verbelen. 2016. Lewin’s Rail Lewinia pectoralis exsul on Flores, Indonesia: its history, status and where to look for it. BirdingASIA 26: 47-52.

Svensson, B. & D.L. Yong. 2016. First record of the Critically Endangered Silvery Pigeon Columba argentina from Nias Island, Sumatra, Indonesia. BirdingASIA 26: 73-75.

Decicco, L.H. 2016. The first description of the nest of Seram Golden Bulbul Thapsinillas affinis affinis from Seram, Indonesia. BirdingASIA 26: 71-72.

Eaton, J., S. Mitchell, C.N.G. Bocos & F. Rheindt. 2016. A short survey of the Meratus mountains, South Kalimantan province, Indonesia: two undescribed avian species discovered. BirdingASIA 26: 107-133.

Oleh: peburungamatir | Februari 10, 2017

Berdaulat

burnes-logo

Dalam keriuhan penyelenggaraan konferensi burung di Denpasar beberapa waktu lalu, saya berkesempatan ngobrol dengan seseorang yang getol sekali dengan Atlas Burung Indonesia (ABI). Dia berupaya “meminang” sebagai pihak yang menjembatani kerjasama antara ABI dengan salah satu portal citizen science ornitologi global.

Tak usahlah disebut portalnya. Namun, si bapak getol sekali. Pertama dulu ia mengajukan melalui email setelah paper terkait ABI terbit (papernya monggo disedot di sini). Saat dalam obrolan, ia menawarkan diri lagi. Kalau melalui email saya tidak membalasnya, ini mau nggak mau harus jawab. Saya bilang, tidak tertarik.

“ABI telah berjalan sebagaimana terlihat,” saya mengawali. Ya, dalam satu sesi presentasi di forum itu, Kang Idjo (Rudyanto) sebagai salah satu pembicara kunci sekaligus Dewan Analisa ABI menyampaikan satu slide terkait progres pengerjaan atlas.

“Semua kami (orang Indonesia) yang kerjakan sendiri,” lanjut saya. “Kami yang memutuskan pengerjaannya (saat Pertemuan Pengamat Burung Indonesia di Tahura R. Soerjo, monggo dibaca di sini), mengupayakan sistem terbangun.” Lantas, ini yang penting, karenanya perlu sedikit memberi jeda di cuapan, “merintis aplikasi, namanya Burungnesia.”

Soal Burungnesia, ini memang perlu dikatakan banyak-banyak. Inilah senjata ampuh karya anak bangsa arek mbatu berjiwa filantropi, Swiss Winnasis Bagus Prabowo, yang mampu mengerek percepatan laju kontribusi data ke ABI. Sebelumnya, kecepatan data masuk sebanding dengan laju keong, saat ini seperti laju peregrine lapar mengejar mangsa.

Ketika bagi pengembang, yang menguntungkan adalah membuat aplikasi permainan, Kang Swiss, demikian sapaanya, malah membuat aplikasi untuk ndata burung. Bagi pemuja materi, usahanya itu masuk kategori nggak mbois blas! Ckckck… Tapi, penyusun Birds of Baluran yang monumental itu, punya orientasi jauh. Semoga rekening amal jariyah penggagasnya, jenderal-jenderal adminnya, seluruh kontributornya, akan terisi terus, selalu mengalir padanya hingga entah. Aamiin…

“Dari sisi ini, kami setara sebagaimana portal citizen science global itu,” saya melanjutkan. “Di empat bulan setelah diluncurkan, kami berhasil mengumpulkan 11 ribu entri, dari kontribusi orang Indonesia sendiri. Portal satunya itu, berapa?”

Lawan bicara yang juga pembicara kunci di konferensi itu, nggak bisa menjawab. Sedikit informasi, di saat ia presentasi, ia menyampaikan kalau di portal tersebut sangat sedikit orang Indonesia yang berkontribusi ke sana. Katanya kontribusinya perlu ditingkatkan.

Dalam obrolan, saya bilang padanya kalau sedikitnya itu karena para kontributor orang Indonesia telah berkontribusi melalui Burungnesia. “Kontributor kami sudah ribuan.”

Kok bisa? Tentu saja. Kontributor ABI menggunakan Burungnesia karena digerakkan oleh cita-cita yang sama. Sama-sama ingin berdaulat dalam keilmuan burung ini, yang telah sekian lama, di banyak lini, selalu dan selalu dikuasai oleh orang asing. Pada jurnal ornitologinya demikian. Buku-buku panduan lapangan burungnya, begitu juga.

Kalau semua-muanya dirayah, habis sudah. Lantas kapan orang Indonesia bisa pintar? Masa selalu hanya menjadi konsumen, cuma user, kontributor doang.

Atlas inilah cara menjadi berdaulat. Kerisnya bernama Burungnesia. Mpu Swiss bertutur banyak soal itu di sini.

“Kamu tidak tertarik masuk organisasi? Dari sana kamu bisa menggerakkan proyek atlas ini lebih jauh lagi,” tanya si bapak setelah upaya pinangannya gagal.

“Tidak, Pak.”

“Aneh sekali, di mana-mana proyek atlas dijalankan oleh satu organisasi. Tidak ada yang seperti atlas Indonesia ini,” kira-kira begitu yang dikatakannya.

“Sekarang ada contohnya. Indonesia memang aneh, kan?”

Di seluruh negara yang memiliki proyek atlas nasional, pengerjaannya itu dilakukan oleh organisasi formal tertentu. Rasa-rasanya hanya Indonesia ini yang berbeda. Atlasnya digerakkan oleh organisasi tanpa bentuk yang mengatasnamakan Pengamat Burung Indonesia. Organisasi yang bukan organisasi. Haha… Mau tunjuk alamat, nggak punya.

Begitulah. Sekali lagi, biar dengan bersusah-payah, tapi itu orang Indonesia sendiri yang punya. Kita kini berdaulat atas keilmuan. Kita disatukan dalam cita-cita bersama, menjadi merdeka.

Si bapak lantas merasa telah sampai pada ujung pembicaraan. Sambil menjabat tangan, ia berujar, “Sukses untuk atlasnya.”

Oleh: peburungamatir | Januari 12, 2017

Bikin field guide burung se-Indonesia

kolase-cover-buku-burung-wm_ak

Beragam buku burung di Indonesia. Foto oleh Ady Kristanto

Konon, hanya tinggal sedikit negara di dunia yang belum punya buku panduan lapangan burung. Dan, yes, termasuk Indonesia.

Memang ada beberapa terbitan yang levelnya Indonesia Raya, tapi itu semua di luar kategori field guide. Dari kategori daftar jenis (checklist) misalnya, sudah ada beberapa. Untuk genre photographic guide, panduan (berbasis) foto, A Photographic Guide to the Birds of Indonesia telah terbit dua edisi. Di level practical guide, ada Birding Indonesia yang terbit 1997.

Sementara trilogi panduan lapangan SKJB-Wallacea-Papua, meski monumental, tidak masuk hitungan karena terbit terpisah. Masing-masing berbeda, baik penyusun, tampilan, isi, sampai gayanya.

Buku yang baru-baru ini diterbitkan raksasa Lynx Edicions, meski mengusung judul Indonesia, luput memasukkan Papua. Justru burung dari beberapa negara lain yang dimasukkan.

Lantas terlintas di pikiran, mengapa hingga saat ini belum pernah ada field guide burung se-Indonesia?

Pondasi ornitologi sudah sangat kuat. Tradisi keilmuannya sudah terbangun mulai berabad silam sumbangan banyak pakar kaliber dunia, macam Thomas Horsfield, Alfred Russel Wallace, Erwin Stresemann, hingga Pamela Rasmussen dan Nigel Collar mewakili era kekinian.

Kekayaan jenis burung negara ini, toh ‘hanya’ nangkring di nomor empat. Colombia sang juara dunia, yang avifaunanya 1.900-an jenis, bahkan sudah dua kali menerbitkan Field Guide to the Birds of Colombia. A Guide to the Birds of Colombia malah sudah terbit tiga puluh tahun lalu. Jumlah burungnya pada saat itu nyaris 1.700 jenis, hampir sama dengan Indonesia saat ini.

Negeri ini punya otoritas keilmuan, ada organisasi profesi yang mewadahi para peneliti burung, ada banyak organisasi pemerhati dan pengamat burung. Masing-masing sudah punya pengalaman menerbitkan buku panduan burung. Dibuat cara keroyokan bisa lah sebenarnya. Tapi kayaknya belum ada ya yang berani coba?

Mbok bikin dong, field guide burung se-Indonesia.

Older Posts »

Kategori