Oleh: peburungamatir | Maret 14, 2019

Burung Lombok dan Sumbawa, a truly local guide-nya NTB

Sampul Burung Lombok dan Sumbawa

Sampul Burung Lombok dan Sumbawa

Empat belas tahun lalu Rudyanto, akrab disapa Kang Ijo, mengungkapkan kebutuhan akan ketersediaan buku panduan burung dalam skala lokal di Indonesia. Buku “Seri Keanekaragaman Hayati: Burung Lombok dan Sumbawa” karya Saleh Amin dan Muhamad Salamuddin Yusuf ini menjadi salah satu jawabannya.

The local club on Sumba needs a Sumbanese guide,” ujar Kang Ijo kala itu sebagaimana tertuang dalam artikel di World Birdwatch. “They can find the birds of Sumba in the guide to Wallacea, but it’s just too big, with too many birds not found in Sumba. And the species may be the same as Sulawesi or Halmahera, but plumage coloration and pattern can be different,” terang generasi pertama pengamat burung Indonesia ini. “A truly local guide could cover this,” pungkasnya.

Perlahan hal itu terwujud. Dari lokasi yang dicontohkan Kang Ijo, telah tersedia buku “Burung-burung Taman Nasional Matalawa” yang terbit 2018 (sedikit ulasannya bisa dibaca di sini). Kemudian hadir buku burung Lombok dan Sumbawa ini.

Ale dan Pak Alam, demikian para penyusun saya sapa, tau betul yang penting untuk disajikan. Lombok dan Sumbawa memang satu provinsi, namun keragaman jenis burungnya berbeda.

Buku Burung Lombok dan Sumbawa mampu jadi penyuguh informasi paling spesifik dan terkini untuk pulau-pulau di Nusa Tenggara Barat tersebut. Contoh terbaik yang menunjukkan betapa tinggi dan berbedanya endemisitas Lombok dan Sumbawa, bisa terlihat pada yang tertulis dalam buku sebagai perkici pelangi Trichoglossus haematodus [Berbagai rujukan kini menyebut jenis yang ada di Lombok dan Sumbawa dengan nama perkici dada-merah Trichoglossus forsteni, membedakan dengan perkici pelangi yang sebarannya melingkupi pulau-pulau di Maluku tengah dan Papua Barat]. Lombok dihuni oleh anak jenis mitchellii (sebarannya dulu termasuk Bali, namun kini diperkirakan telah punah), sementara di Sumbawa forsteni.

Masing-masing anak jenis endemik tersebut terwakili dalam foto. Dan itu meneguhkan kalau jenis tersebut masih ada di alam. Dua anak jenis lain, yakni djampeanus yang menghuni Pulau Tanahjampea dan stresemanni di Pulau Kalaotoa—keduanya di Sulawesi—ditengarai telah punah. Bila itu benar, artinya keberadaan perkici dada-merah di dunia hanya tinggal terwakili di Lombok dan Sumbawa.

Namun, jangan bangga dulu. Tanda merah tercantum untuk jenis tersebut. Menurut penyusunnya, itu berarti langka dan sangat sulit dijumpai, dengan peluang perjumpaan dan wilayah yang ditempati di bawah 25%. Sementara populasinya diberi warna abu-abu, artinya kurang dari 500 ekor. Status globalnya yang Vulnerable sepertinya harus ditinjau ulang.

Secara keseluruhan, Lombok punya empat taksa endemik (satu di tingkat spesies, tiga di tingkat subspesies) dan Sumbawa tujuh, yang seluruhnya di tingkat subspesies. Buku ini berhasil menyuguhkan informasi dan foto nyaris seluruhnya. Itu luar biasa.

Pembaca kemudian bisa mengetahui sosok taksa-taksa endemik yang ada. Hanya satu yang tidak diuraikan, yakni opior flores Lophozosterops superciliaris hartertianus dari Sumbawa. Mungkin karena pertimbangan belum tersedianya foto yang mewakili.

Menyinggung soal foto, buku ini menyajikannya dengan kualitas yang layak diacungi jempol. Di hampir tiap jenis, tersaji dua atau tiga foto yang itu menunjukkan variasi dimorfisme antara jantan dan betina atau anakan, perbedaan di saat bertengger dan terbang, atau burung dalam bulu berbiak dan bulu tak berbiak. Paling hanya di sikep-madu asia yang rasanya agak berlebihan karena harus dibombardir dengan 11 foto, semua dalam posisi terbang. Tapi, itulah Ale, eh, itulah yang kemudian menunjukkan bahwa stok foto berkualitas dari Nusa Tenggara Barat berlimpah ruah.

Artinya, para pengamat dan fotografernya rajin. Lombok punya Kelompok Pengamat Burung Kecial dengan Ale sebagai salah satu pendirinya, Sumbawa sisi barat rutin dijelajahi Pak Alam, dan Sindikat Fotografer Wildlife Bima Dompu—yang militansinya bikin goyang kepala—menguasai sisi timur. Maka, tak heran bila dalam buku ini tersaji 234 dari total 298 jenis burung yang tercatat (nyaris 80%) dengan jumlah foto mencapai lebih dari 500 buah.

Sebagai yang terkini, buku bersampul cekakak kalung-cokelat ini menyuguhkan banyak temuan baru. Beberapa highlight, misalnya cabak mees temuan M. Olan Wardiansyah di Sumbawa. Sebelumnya, jenis ini dianggap sebagai endemik Flores dan Sumba, Nusa Tenggara Timur. Kemudian camar punggung-abu yang menjadi catatan pertama kehadirannya di Indonesia hasil temuan Andi Albayquni di Lombok. Buku ini memperkenalkan nama Indonesianya. Perjumpaan burung-sepatu teratai di Sumbawa menjadi yang pertama tak hanya untuk Nusa Tenggara, namun juga Wallacea.

Sedikit yang membuat bertanya-tanya adalah pada pencantuman warna di peta sebaran beberapa jenis. Bangau sandang-lawe, penetap, namun diberi warna kuning yang artinya pendatang. Juga cangak laut, berkik-kembang besar, caladi tilik, wiwik uncuing, dan layang-layang loreng. Sementara mandar bontod, gajahan penggala, dan dara-laut benggala yang merupakan jenis pendatang, diberi warna hijau, yang artinya penetap. Adakah temuan berbiak mereka di Lombok dan Sumbawa?

Dari foto jenis, yang tertampil untuk cerek-pasir mongolia adalah cerek-pasir besar. Paruhnya tebal dan kokoh, dengan kaki berwarna kuning.

Namun, lepas dari itu saya yakin buku ini akan mencapai sebagaimana yang jadi harapan penyusunnya. A truly local guide, meminjam istilah Kang Ijo, yang hadir sebagai penggerak dan pendukung kegiatan konservasi di Nusa Tenggara Barat. Sruput kopi untuk ini. Selamat!

Data Buku
Judul: Seri Keanekaragaman Hayati: Burung Lombok dan Sumbawa
Penyusun: Saleh Amin dan Muhamad Salamuddin Yusuf
Tahun: 2018

Oleh: peburungamatir | Oktober 13, 2018

Mari Bercerita

Mari bercerita
tentang bunga-bunga ungu yang daunnya menghampar di rawa
lantai berpijak burung-burung putih dari utara
tempat katak menambatkan harap

atau sesekali hati kita saja yang bicara
cukup dalam diam
bahasa yang sederhana

karena seperti yang kau bilang
lugas itu perjuangan

11 Okt 2011

Oleh: peburungamatir | Juni 25, 2018

Muhammad Iqbal, ornitolog panutan

Muhammad Iqbal

Muhammad Iqbal

Di pembawaannya yang tenang, ada bara yang menyemangatinya untuk selalu berkarya. Laci koleksi pustaka ornitologi saya penuh atas satu nama, Muhammad Iqbal.

Telah 94 publikasi ia torehkan di rentang 2005-2018. Angka dipastikan akan terus bertambah karena di tahun ini saja, ada beberapa makalahnya yang tinggal menunggu terbit. Dari jumlah itu, terdapat 68 publikasi (72%) dengan namanya sebagai penulis utama (first author).

Peraih ‘Ornithologist of the Year’ dari Indonesian Ornithologist Union (IdOU) tahun 2009 ini menjadi orang Indonesia yang paling produktif dalam menulis. Dalam usia yang memasuki 40 tepat di hari ini, 26 Juni, Muhammad Iqbal telah menancapkan satu patok tinggi untuk bangsa ini.

Kiprahnya di perburungan berawal saat kuliah. “Kami dulu mahasiswa anak FMIPA Unsri yang mendapat grant dari Yayasan Kehati untuk survei burung di TN Kerinci Seblat,” demikian sepak-terjangnya bermula. Setelah menamatkan kuliah, bang Iqbal, begitu saya biasa menyapa, kemudian berkesempatan mengikuti program survei IBA (Important Bird Area) inisiasi BirdLife Indonesia.

Dari keterlibatan di kegiatan itu, pada 2001, terbentuklah Kelompok Pengamat Burung Spirit of Sumatra (KPB SoS), wadah yang membesarkan namanya. Bang Iqbal mendirikannya bersama Ali Imron dan Fadly Takari. Lewat organisasi tersebut ia kian akrab dengan berbagai aktifitas survei dan riset. Seperti kala Wetlands International menjalankan program pengusulan Taman Nasional Sembilang. Menurutnya, keterlibatan di kegiatan tersebut memberi banyak pengalaman berharga, termasuk temuan-temuan penting yang kemudian berbuah makalah ilmiah.

Publikasi ornitologi pertamanya memuat tentang berbagai jenis burung baru dan jarang tercatat di Sumatera, temuan dari berbagai survei yang ia ikuti. Makalah terbit di Forktail pada 2005, berjudul “New and noteworthy bird records from Sumatra, Indonesia”. Enam jenis yang termuat. Elang-rawa tangling, teramati pada November 1999 di Ogan Komering Lebak, menjadi yang pertama untuk Sumatera dan trinil kaki-kuning di Kerinci Seblat, menjadi catatan kedua untuk Sumatera sekaligus Indonesia.

Sebagai yang pertama, pengalaman menulis di Forktail itu begitu membekas. Kala itu, editor dan reviewer meragukan temuan-temuannya. Butuh sekitar dua tahun hingga akhirnya makalah terbit. Tak heran hingga saat ini bang Iqbal belum menerbitkan tulisan lagi di jurnal milik Oriental Bird Club itu.

Di tahun berikutnya ia mampu mempublikasikan tiga makalah. Dua yang terbit di Kukila, mengenai kowak jepang dan kowak merah. Kedua jenis itu baru untuk Sumatera.

Ia kemudian melejit dengan laporan berbagai temuan jenis baru untuk Indonesia atau region, catatan perkembangbiakan, ulasan terkini, dan banyak lagi. Dalam setahun, publikasinya pernah mencapai 15 makalah. Di rentang 13 tahun kiprah ornitologinya, hanya pada 2007 ia absen.

Kontribusi kepenulisan

Kontribusi kepenulisan Muhammad Iqbal di ornitologi

publikasi berdasar kelompok burung

Publikasi Muhammad Iqbal berdasar kelompok burung

Sebagian besar publikasi bang Iqbal adalah mengenai burung pantai (39%). Satu-satunya orang Indonesia yang menjadi anggota International Wader Study Group (IWSG) ini pernah menulis secara berseri jenis gagang-bayam timur, gagang-bayam belang, dan cerek jawa. Soal ini, mungkin terkait erat dengan bentang alam tanah kelahirannya yang demikian lekat dengan ekosistem perairan, rawa, dan pesisir. Demikian pula untuk kelompok burung air.

Ia pernah melakukan survei khusus untuk bangau bluwok, menyusuri pesisir timur Sumatera dari ujung utara hingga selatan, dan membuat makalah berseri tentang jenis terancam punah itu.

Banyak menulis tentang burung, namun sebenarnya tulisan ilmiah pertamanya adalah tentang ikan. Pada 2003, sebagai penulis pendamping, ia menulis tentang ikan-ikan di perairan estuaria Taman Nasional Sembilang. Setahun berikutnya, ia menulis tentang daerah penting bagi ikan di Sumatera Selatan—kali ini sebagai penulis tunggal. Publikasinya mengenai ikan  terbilang banyak dan penting, memuat berbagai temuan jenis baru untuk Sumatera maupun Indonesia. Kalau berkesempatan melanjutkan pendidikan, bang Iqbal mungkin akan memilih mendalami iktiologi. Saat ini ia tengah berfokus menyelesaikan buku tentang ikan air tawar Sumatera Selatan.

Dalam mengambil sudut pandang tulisan, ayah tiga anak ini punya kejelian. Makalah mengenai perdagangan raptor misalnya, kajiannya diambil dari lalu lintas jual beli grup-grup Facebook. Judul makalah yang terbit di BirdingASIA pada 2016 itu pun unik, “Predators become prey! Can Indonesian raptors survive online bird trading?”.

Bang Iqbal pernah mencatatkan temuan menarik dari burung yang masih menjadi misteri. Di penghujung 2014, saat mengunjungi Pulau Menui, Sulawesi Tenggara, ia menjumpai sejenis walik yang tak ada padanannya di buku manapun. Burung misterius itu sepintas mirip dengan walik kembang, namun bila jantan walik kembang berkepala putih, burung yang ditemukan bang Iqbal berkepala gelap dengan dagu kuning. Foto-foto dari burung yang ditemukan dalam peliharaan tersebut ia kirimkan ke situs foto burung orientalbirdimages.org.

“Dikhawatirkan ini burung diwarnai, tapi saya lihat ada dua pasang, dan orang-orang di sana tidak seperti secanggih pedagang burung di Jawa,” jelasnya satu kali. “Walau bisa menjebak burung tapi tidak yakin mereka mewarnainya. Orang lokal bilang Menui Fruit-Dove burung asli tangkapan bukan diwarnai”. Ia berharap kelak bisa kembali ke pulau tersebut dan menyibak misteri walik menui.

Dari semua itu, sosoknya dikenal sangat bermurah hati dalam berbagi pengetahuan. Ia merespon dengan cepat ke siapa saja yang bertanya padanya, menyuplai buku-buku atau informasi dari koleksi bacaan di perpustakaannya. Penggemar AC Milan ini kerap membuat kuis dengan hadiah buku atau pulsa.

Sikapnya itu lahir dari kesadaran dan pengalaman. Ia mencontohkan interaksinya dengan banyak ornitolog dunia yang begitu cepat memberi tanggapan, melayani pertanyaan-pertanyaan dengan antusias, dan senang berbagi. Menurutnya, itu cerminan perilaku yang islami. Sebagai muslim ia malu bila tak berperilaku seperti itu.

Di suatu waktu, sepuluh tahun lalu, saya bertanya padanya tips-tips menulis ilmiah. Padahal saya belum pernah bertemu muka dan perkenalan hanya sebatas di forum mailing list. Tetapi, itulah istimewanya, ia amat ringan dalam berbagi ilmu. Berikut tips manjur darinya:
1. Yakinkan pada diri kita sendiri kalau materi yang ingin di-publish [itu] sesuatu yang menarik (eg. catatan pertama untuk daerah, first breeding record atau sejenisnya)

2. Atau setidaknya burung tersebut jarang atau jenis terancam punah (mungkin terakhir terlihat 10 tahun lalu atau recordnya sedikit sekali)

3. Kuasai dengan baik informasi ilmiah yang ada setidaknya yang diakui (eg Kukila, Forktail, BirdingASIA, dll) sehubungan dengan materi yang akan ditulis

4. Minta masukan dari orang yang berkompeten

5. Jangan ragu untuk mengirim tulisan ke jurnal yang dikehendaki

6. Jangan berpatah hati kalau tulisan tidak dimuat, kalau bisa jadi pemicu agar bisa berbuat lebih baik

7. Terus konsisten untuk berkomunikasi dengan jurnal yang dikirim, kalau ada yang diedit usahakan selesaikan dengan cepat

8. Kalau pernah bekerja dengan orang yang sudah sering mengirim paper [bang Iqbal menyebut beberapa nama, tapi tidak saya sebutkan di sini] minta komentar dari mereka dan masukkan ke Acknowledgement bahwa mereka mereview paper kita sehingga publisher tahu kalau kita ada kompetensi dan sebelumnya telah menjalin komunikasi dengan mereka.

Pada November 2017, salah satu situs peneliti yang diikutinya membuat satu pengumuman. Publikasinya, telah terbaca hingga 10.000 kali. Lewat beranda Facebook, ia mendedikasikan itu untuk ayahanda.

“Ayah memiliki latar belakang guru agama, dan mendidik anak-anaknya dengan keras untuk masalah ini,” kenangnya. “Tetapi ketika mengajukan permintaan untuk menekuni biologi, bukan ilmu agama, alhamdulillah beliau mengizinkannya. Terima kasih ayah, jika ini ada manfaatnya, semoga bisa menjadi wasilah buat kebaikanmu di sana juga.”

Pilihan yang tepat dan terbukti memberi banyak kebermanfaatan. Ia menjadi yang paling produktif dalam menyusun menara pengetahuan perburungan Indonesia, dermawan membagi ilmu, dan gigih mendorong para pengamat burung pemula untuk juga menulis.

Muhammad Iqbal adalah pengecualian. Kehadirannya menjadi contoh dan panutan. Ilmuwan tekun dan gigih, guru sekaligus kawan bagi banyak orang. Sosok sepertinya, tak selalu lahir di tiap jaman.

Older Posts »

Kategori