Oleh: peburungamatir | Oktober 17, 2016

PPBI V 2015: Sejarah baru ABI

Sesi foto bersama, Ranca Upas 29 November 2015. Foto oleh Fachmi Azhar Aji.

Sesi foto bersama peserta PPBI V, Ranca Upas 29 November 2015. Foto oleh Fachmi Azhar Aji.

Tiada tempat yang paling tepat untuk menyampaikan perkembangan pengerjaan Atlas Burung Indonesia (ABI) selain di forum Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI). Dan PPBI V di Bandung, mencatat sejarahnya.

Dalam pertemuan pada 28-29 November 2015 itu, hasil perdana dari project yang tercetus dua tahun sebelumnya ini tersampaikan. Selain penyampaian ABI, dalam sesi ruang di hari pertama, Yok Yok Hadiprakarsa berbagi cerita mengenai rangkong di Indonesia, gambaran perdagangan burung ilegal disampaikan oleh Giyanto, dan Budi Hermawan memaparkan sekelumit tentang hobi memotret burung di alam.

Terkait ABI, laporan perdana kemajuan pengerjaan terangkum dalam sebuah poster. Nurdin Setio Budi, sang koordinator kartografi, yang membuatnya. Oleh panitia, poster monumental itu dicetak dua lembar. Kini satu poster tinggal tetap di Bandung, satunya tersimpan di Semarang.

Poster ABI dalam PPBI V karya Nurdin Setio Budi.

Poster ABI dalam PPBI V karya Nurdin Setio Budi.

Isi poster sebenarnya tidak seberapa. Hanya berisi kontribusi data dari empat simpul, yakni Jakarta, Semarang, Jogja, dan Surabaya. Di dalamnya tercakup 439 titik pengamatan yang mewakili 40 grid, dengan 439 jenis burung yang tercatat. Jangan bandingkan dengan 14 ribuan grid keseluruhan atau 1.700-an jenis burung yang negeri ini punya. Jelas nggak ada apa-apanya.

Namun, satu yang patut dicatat. Data tak seberapa itu merupakan sumbangan dari sekitar 1.000 orang pengamat!

Lah, kok bisa? Ini laporan perdana, kegiatan baru jalan dua tahun, kok sebanyak itu orang yang terlibat?

Yaa, begitulah. Jogja, misalnya, data terkumpul dari era sebelum saya lahir. Itu satu. Kemudian, yang namanya pengamatan burung di Jogja, rame yang ikut. Ini saya sudah lahir, jadi suka ikut. Contoh kegiatan yang diinisiasi oleh Kutilang, yang kemudian menjadi agenda rutin bulanan bernama Jogja Bird Walk (JBW), pesertanya bisa 20-30 orang.

Itu sumbangan data dari satu kegiatan. Seiring itu, kegiatan pengamatan juga dilangsungkan oleh banyak klub pengamat burung. Daftar pesertanya juga buanyak—sebanyak anggota yang terdaftar oleh klub bersangkutan, berikut simpatisan, gebetan, cem-ceman, dan entah apa lagi sebutannya.

Gambaran kegiatan pengamatan di Jogja ini juga berlaku sama di kota-kota lain. Repotnya, di kegiatan bersama macam ini, daftar peserta tidak selalu tersedia. Rasanya jadi tidak mungkin mampu menyebut semua yang terlibat. Kalau harus dituliskan, mungkin akan ada nama-nama, macam Sebut Saja Bunga, Anonim, atau Hamba Allah.

Sebagai solusi, bila tidak bisa menyebutkan daftar peserta, yang kemudian dimasukkan dalam daftar kontributor adalah klub-klubnya. Sedikit kontributor yang telah terdaftar bisa dilihat di sini.

Mengetahui ini, Kang Idjo tak ragu berujar kalau ABI adalah kegiatan voluntary terbesar di Indonesia. Konteksnya tentu di ranah sains warga, kegiatan sukarela berlatar belakang ilmiah yang pelaku utamanya adalah masyarakat. Di burung, pelakunya semakin banyak dan meluas.

Ya, pengamat burung tak lagi melulu mahasiswa berlatar belakang fakultas rumpun ilmu alam. Profesi yang terlibat macam-macam, ya ibu rumah tangga, pekerja kantoran, dokter, jurnalis, dan banyak lagi. Bahkan, kalau dulu salah satu ujung tombak sains warga bidang ornitologi itu anak sekolah, kini yang terjun juga anak belum sekolah.

Kegiatan pun makin menyentuh ranah yang juga punya banyak peminat, macam fotografi. Senjata kini tak lagi hanya teropong (pinjaman), namun juga kamera berlensa termos atau dengan perbesaran minta ampun. Dan itu milik pribadi.

Karenanya selesai PPBI V, kantung di dada serasa penuh. ABI sudah mulai terlihat perkembangannya. Ia tak lagi hanya ide dan cita-cita sebagaimana dalam dua PPBI sebelumnya (monggo bila ingin menyimak hasil PPBI III dan PPBI IV). Pasukan militannya sudah makin banyak.

Sebagai sebuah gerakan senyap, ujar Swiss Winnasis sang penggerak, ABI adalah “blender berdarah”. Ia, kata otak di balik aplikasi Burungnesia ini, telah “mencampuradukkan rasa malu pada diri sendiri, kagum, dan optimisme menjadi segelas es jus manis yang semoga bisa saya tenggak di PPBI tahun depan.”

So, pastikan datang di PPBI 2016 Lombok. Sebab akan ada torehan sejarah baru lagi dari arek mbatu itu. Dia akan jualan es jus manis. Hahaha…

PPBI keenam memang tinggal hitungan hari. Semoga akan ada torehan cerita baru. Namun, untuk banyak hal yang telah dicapai dalam PPBI V, sebagaimana terabadikan, penyelenggaraan di Bandung berhasil mencipta banyak monumen. Bandung menjadi sebuah tonggak bersejarah pertemuan dan kolaborasi antara pelaku pengamatan dan peminat fotografi burung. Dua hobi yang bermuara satu, kecintaan pada burung.

Love is blend, kata pepatah.

Para pengamat dan fotografer burung peserta PPBI V. Foto oleh Budi Hermawan

Para pengamat dan fotografer burung peserta PPBI V, pasukan bersenjata kedaulatan ornitologi Indonesia. Foto oleh Budi Hermawan.

Oleh: peburungamatir | Mei 31, 2016

Cuma Mirip

burung terbang

Unik ya. Ternyata dua jenis burung ini punya pola warna yang lumayan mirip.

Saya jepret keduanya dikali pertama datang ke Taman Nasional Karimunjawa. Ketika fotonya dikolase, bisa dengan mudah melihat banyaknya persamaan dan perbedaan keduanya.

Tau lah ya jenisnya..😀

 

 

 

Oleh: peburungamatir | April 29, 2016

Misteri tahun terbit sang kitab suci

sang kitab suci

sang kitab suci

Kalau misal seseorang bertanya, “Punya MacKinnon, nggak?” Tanpa perlu berkerut kening atau meminta orang itu mengulang pertanyaan, saya bisa langsung paham maksudnya. Tiada lain buku panduan burung untuk kawasan Sunda Besar itu.

Sebutan sayang, macam mekinon itu, eskajebe, esjebeka, dan entah apa lagi, menandakan begitu dekat dan lekatnya buku ini. Demikian melegendanya buah karya John MacKinnon, Karen Phillipps & Bas van Balen itu. Dua panduan burung yang lain harus mengaku kalah sohor. Karenanya jangan heran (apalagi protes) bila satu kali ada yang dengan serius bertanya, “Kalau MacKinnon yang Wallacea atau Papua, punya nggak?”

Keintimannya merasuk hingga alam bawah sadar. Coba lihat buku-buku panduan lokal yang ada, baca uraiannya tentang jenis-jenis burung yang tercantum. Anda akan bisa langsung tahu, mana yang menuliskannya dengan ‘gaya MacKinnon’, mana yang berupaya—dengan susah payah—untuk keluar dari gayanya. Sedemikian intim, sampai-sampai itu seakan jadi bentuk baku dalam menyampaikan ciri suatu jenis burung dan tidak ada cara lain.

Berukuran sedang. Jantan bla-bla-bla, sementara burung betina bli-bli-bli.’ Dan seterusnya…

Efek yang timbul dari buku bersampul belakang tesia jawa ini, dahsyat. Kegunaan dan manfaatnya luar biasa. Tak ternilai. Hingga betapa demikian wajar akhirnya menyebut suatu jenis dengan nama yang sebenarnya aneh dan layak gugat, macam sikatan bodoh, cucak sakit-tubuh, atau kacamata biasa. Meski belum pernah ada pembakuan nama jenis burung di Indonesia, mekinon mampu merebut popularitas. Membuat umumnya manusia pengguna menyepakati nama-nama yang tersemat. Kepioniran mekinon edisi Jawa Bali kalah telak. Mungkin kini tak ada yang kenal cerek kalung-patah, kapinis pohon, atau belanda mabok.

Uraian suara beberapa jenis membuat beberapa kawan yang kritis bertanya-tanya. Mereka merasa jungle (boleh dibaca: janggal) ketika membaca dan mencoba menirukan suara macam:

Teriakan nyaring seperti rangkong “ah-ah-ah..” (elang-laut perut-putih), “klik” yang diikuti derukan melankolis dan menggema: “klik-bruum-bruum” (pergam gunung), atau gemerincing yang gembira (layang-layang rumah).

Seperti apa gemerincing yang gembira itu? Lantas, “klik” yang melankolis? Kalau mem-verbalkan “ah-ah-ah” mungkin mudah. Tapi, orang per orang akan punya cara dan persepsinya sendiri bila diminta–tergantung kualitas pikiran dan referensi tontonan masing-masing.

Ah, betapa pemaaafnya kita dengan itu. Cukup tersenyum dan bisa maklum. Suara burung memang banyak yang aneh-aneh dan susah untuk dibuat narasi atau ditranskripsi.

Contoh kelegendaan yang lain tentu Anda bisa menambahkan sendiri. Saya hanya akan melanjutkan cerita untuk satu misterinya yang tak pernah digugat: tahun perdana terbitan edisi bahasa Indonesia.

1998, 1999, 2000, atau …
Coba sekali waktu cek edisi perdana terbitan Puslitbang Biologi-LIPI dan BirdLife Indonesia. Adakah Anda menemukan pencantuman tahun terbitnya? Bila menemukan, mohon beri tahu. Bila tidak, bolehlah menerawang menurut kehendak dan keyakinan Anda.

Ketiadaan pencantuman tahun terbit di buku itu misteri. Meskipun kalau mau menelusur, ada bisa ditemukan serpihan petunjuk, seperti pada halaman ix:

“Proyek ini dilaksanakan oleh Puslitbang Biologi-LIPI (PPPB-LIPI), selama lima tahun, yaitu dari 1 Oktober tahun 1994 sampai 31 Maret tahun 2000.”

Cukup jelas kalau buku ini tidak diterbitkan dalam rentang waktu itu. Namun, tetap saja tidak ada tahun terbit yang tercantum di 500 lebih halamannya. Maka bolehlah takjub ketika melihat ada yang menulis 1998, 1999, 2000, bahkan tahun 1993, jauh sebelum proyek dimulai. Silahkan iseng kulik-kulik literatur, referensi, paper, makalah, skripsi, atau sejenisnya, dan temukan sendiri betapa beragam penulisan tahun terbit MacKinnon edisi perdana.

Perihal ini, Yudistira Ananta Toer satu kali bercerita. Anak mendiang begawan sastra Indonesia itu mengenangkan cara sang ayah mengajarkannya membaca buku.

“Bapak mengajarkan bahwa membaca itu harus semuanya. Tuntas. Semuanya. Bukan hanya isi atau materi buku, tapi juga penerbitnya, nama pengarangnya, editornya, dan seterusnya,” demikian kenang si bungsu penggerak Lentera Dipantara dan Mata Pusaran itu.

Hingga kemudian sang ayah mengujinya, Yudistira merasa kecele. Itu terjadi ketika Pram memintanya membaca sebuah buku yang sangat tebal. Padahal ibarat mahasiswa akan menghadapi ujian, ia telah suntuk semalaman berupaya keras memahami isi buku.

“Pas ditanya,” ungkapnya, “ternyata bukan isinya, tapi siapa penerbitnya.”

Bayangkan perlakuan Pram yang dikenal keras dan dingin itu ketika tahu betapa banyak versi penulisan tahun terbit kitab gelontoran dana Bank Dunia itu. Duh!

Ketiadaan pencantuman tahun terbit itu misterius memang. Dan buat saya tidak ada penulisan yang benar, kecuali ditulis dengan Tanpa Tahun.

Dengan kenyataan ini, pusing juga untuk mencantumkan sitasi atau bibliografinya. Alih-alih menyebut tanpa tahun, jika harus merujuk saya cantumkan tahun 1993 sesuai terbitan versi Inggrisnya. Kalaupun terpaksa mengacu yang edisi Indonesia, kini saya tulis 2010, tahun terbit cetakan kedua. Tapi mungkin di satu kesempatan saya akan tulis apa adanya:

MacKinnon, J., K. Phillipps & B. van Balen. Tanpa Tahun. Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Puslitbio-LIPI & BirdLife International Indonesia Programme, Bogor.

Untuk satu pustaka yang disebut Nick Langley sebagai buku tua, kotor, usang, dengan ujung-ujung halaman penuh lipatan yang (turut) membangun gerakan konservasi di Indonesia ini, saya tak akan mempersoalkan lebih panjang. Toh tidak ada yang menggugat. Tidak ada yang kemudian tega menuliskan sitasinya dengan ‘MacKinnon et al. (Tanpa Tahun)’. Sebatas pengetahuan, belum pernah ada pula yang menjelaskan ihwal ketiadaan tahun terbitnya.

Misteri yang aneh, tapi nyata. Mungkin itu sebabnya kitab suci ini melegenda.

Older Posts »

Kategori