Oleh: peburungamatir | Desember 31, 2020

Mencegah Parade Kehilangan

Pemandangan barisan kurungan berisi burung yang dijajakan di satu ruas jalan, Aceh, 2017.

Dalam satu kunjungan ke Jatimulyo, saya berkesempatan treking santai bersama Mas Kelik dan Pak Jiman. Saat menyusuri setapak hutan perkebunan desa ramah burung itu, Pak Jiman tiba-tiba memberi tau saya.

“Dulu,” ujarnya, “sekali jalan begini saya bisa ‘panen’ sampai 20-an anakan sulingan.”

Sulingan, tledekan, sikatan cacing, pernah jadi primadona desa. Jenis yang paling diburu, dihargai lumayan mahal. Populasinya kini menurun drastis. Tak hanya di Jatimulyo, tapi seantero Jawa.

Syukur di lima tahun lalu terbit peraturan desa yang melarang perburuan burung. Pak Jiman, Mas Kelik, dan banyak warga Jatimulyo lainnya lantas berhenti dari aktivitas tak lestari itu.

Dan tak ingin kehilangan, merekapun mencoba bergerak, berbuat sesuatu. Kini mereka jadi garda terdepan konservasi desa lewat wadah bernama Kelompok Tani Hutan (KTH) Wanapaksi.

“Dulunya itu kapan, Pak?” Saya penasaran.

Pria yang lebih akrab disapa dengan nama Pak Tolo itu coba mengingat-ingat. Ia seperti berpikir keras, bergumam sendiri. Lantas, dengan mengacu tahun lahir salah satu anaknya, ia berujar, “Tahun-tahun 80-an lah.”

Itu sekira 30-40 tahun lalu. Masa kejayaan yang mungkin takkan pernah kembali lagi.

Konon, di Jakarta, daerah Gunung Sahari tepatnya, elang bondol pernah teramati sampai ratusan ekor, terbang dalam satu rombongan. Tercatat 80 tahun lalu.

Kini kita tau jumlahnya lebih banyak lagi. Mungkin ribuan, menempel di bodi Transjakarta. Yap, hanya gambarnya.

Belum lama ini, saat tenguk-tenguk di Berbah, daerah dekat bandara Adisucipto, suara bido tiba-tiba terdengar. Saya inguk, iya, benar. Sampai dua ekor bahkan.

Saya gumun. Hampir 20 tahun mengamati burung, jarang-jarang bisa lihat bido di seputaran kota Jogja.

Tapi, mungkin dulu, 40-50 tahun lalu, itu biasa. Beberapa jenis elang memang dikenal punya daya jelajah tinggi, bisa hidup di dekat pemukiman atau lahan garapan. Mungkin elang bondol ya gampang ditemui.

Terlintas di pikiran, kira-kira seperti apa keragaman burung di Berbah sekitar tahun 70-an? Info perkembangan tata kota, perubahan peruntukkan lahan, mungkin bisa dicari. Tapi, ke mana mesti cari tau jenis elang apa saja yang sliweran di Berbah saat itu? Bagaimana dengan seabad lalu?

Emprit bergerombol banyak. Dari tiga jenis, bondol jawa yang paling umum. Seorang kawan sekali waktu bilang pernah lihat gelatik jawa.

Tapi, apa 50 tahun lalu juga begitu? Apa ada juga jenis bondol lain, macam oto-hitam, binglis, dada-merah atau pipit benggala? Jenis apa yang paling umum?

Pijakan saya, ya yang saya tau. Entah dari informasi atau mengalami sendiri. Seperti waktu masih aktif ngampus–aktif tidur di kampus maksudnya, ketemu pleci itu saking gampangnya. Nge-flock puluhan ekor, mengerubung pohon sambil bercericit ramai. Saat berpindah, mereka terbang seperti bergelombang saking banyaknya.

Itu di rentang 10-15 tahun lalu. Kini, bisa lihat seekor saja sudah beruntung luar biasa. Kalau ada terdengar suara, terlebih dahulu harus memastikan itu asalnya dari kurungan atau memang benar liar.

Untuk pleci, ya, saya merasa kehilangan. Juga pada keberadaan jenis lain, seperti perenjak jawa, perenjak coklat atau pentet. Burung-burung penghuni pekarangan itu telah bergeser jadi penghuni teras rumah. Berbondong-bondong mereka diboyong pindah.

Ada perubahan lingkungan yang terjadi. Kondisi berbeda antara dulu dan kini, dari generasi ke generasi. Jenis yang umum dulu telah banyak yang jadi jarang. Sebaliknya, yang umum sekarang belum tentu dulu banyak. Entah pula nanti. Tidak banyak informasi yang kita punya pijakan soal itu.

Ini yang Sebastian van Balen jelaskan sebagai baseline shifting syndrome. Dalam presentasinya di Konferensi Peneliti dan Pemerhati Burung (KPPBI) IV, Semarang, 2018, ornitolog Belanda itu bercerita panjang lebar soal fenomena pergeseran pijakan di masyarakat dalam aspek ekologi.

Kembali ke Pak Jiman. Ia mengalami, tau dan merasakan fenomena keberadaan sikatan cacing di desanya, dari jenis yang umum menjadi langka seperti sekarang. Ia punya pijakan dari memori, sehingga bisa membandingkan. Saya tau karena mendapat informasi. Kalau tidak, saya akan mengira sulingan jarang itu ya biasa.

Buat yang tidak mengalami, tidak mendapat informasi, tidak akan tau. Paling parah, kalaupun punah tidak akan merasa kehilangan. Sebab, tidak punya memori soal itu, tidak punya informasi gambaran kondisi dahulu, sehingga tidak punya pijakan apa-apa untuk bisa membuat perbandingan.

***

Mohon maaf, karena keterbatasan saya jadinya contoh yang disebut hanya melulu Jawa. Mari coba bergeser sedikit.

Buat Kalimantan Barat, rangkong gading adalah fauna identitas provinsi. Namun, kini populasinya di alam sedang terjun bebas. ‘Tanduk’ (casque) di atas paruhnya diincar untuk jadi ukiran. Berharga sangat mahal dan buruan para kolektor.

Padahal ia lebih dari sekadar maskot provinsi. Ia tak ternilai artinya dalam tradisi budaya suku-suku di Kalimantan. Belum lama Tirto menyampaikan laporan soal ini.

Bagi Dayak Iban, rangkong gading adalah panglima para burung. Ia simbol pemimpin dunia atas, penjelmaan Sang Pencipta, wadah pengetahuan dan adat untuk manusia.

Pada Dayak Kayaan, masih dari Tirto, burung besar ini menjadi lumbung inspirasi seni. Terwujud dalam tato, musik dan tarian, juga aksesori.

Apa yang terjadi kalau identitas atau sumber inspirasi Anda hilang?

Garuda boleh saja di dadaku, silahkan bangga. Tapi elang jawa, satwa identitas nasional yang dianggap pengejawantahan sang Garuda, menghilang satu per satu dari habitatnya.

Jadi, sekadar saran, kalau mau menjadikan satwa sebagai logo atau maskot buat perusahaan, organisasi, atau instansi Anda, pilihlah yang cukup umum. Lalat hijau, uget-uget, atau apalah. Filosofi gampang dicari. Tapi yang punah, selamanya akan hilang tak kembali.

Sikatan cacing, pleci, rangkong gading, elang jawa, itu hanyalah beberapa. Bersama juga banyak lagi lainnya, mereka sedang antre punah. Dan kita sedang menuju parade kehilangan.

Tetapi kalau rangkong gading atau elang jawa punah, apa Anda akan merasa kehilangan? Akankah rasanya seperti, misalnya ditinggal orang yang Anda kasihi, sumber inspirasi dan separuh diri Anda?

Demi mencegah itu, banyak yang bisa dilakukan. Silahkan Anda bercita-cita jadi peneliti atau jadi anggota organisasi pejuang lingkungan. Atau, bekerja di kawasan konservasi misalnya. Selain mulia, Anda juga akan punya status pegawai negeri, idaman calon mertua.

Tapi, tentu tidak semua orang dapat menempuh cara itu. Tak apa tak lolos kriteria calon mantu. Yang penting terus berbuat sesuatu. Hal yang sederhana, yang kita bisa.

Terus saja mengamati burung, mencatat, lantas berbagi. Ya datanya, ya ceritanya. Syukur-syukur bisa keduanya. Karena yang kadung hilang, sekali lagi, tak akan bisa kembali.

Oleh: peburungamatir | Desember 28, 2020

ABI: Kedaulatan Ornitologi dan Sains yang Membumi

Buku Atlas Burung Indonesia (ABI) terbit juga akhirnya. Semoga ia turut jadi penanda terwujudnya kedaulatan ornitologi bangsa ini.

Terasa rada bombastis memang, seakan berlebihan. Tapi berdaulat di bidang ornitologi adalah sesuatu yang kebangetan. Sesuatu banget, tapi saking bangetnya. Karena upaya itu nggak mudah.

Ketika sampai pada titik ini, mencoba melihat tahapan demi tahapan proses, dengan buku itu sebagai pencapaiannya, kita ternyata masih boleh terus memupuk harap. Tanpa bermaksud larut dalam romantisme atau berdrama-drama, tetapi memang telah di banyak lini, ornitologi negeri ini kalah, tertinggal, bahkan bolak-balik kesalip.

Di tingkatan negara, pengerjaan atlas burung sudah banyak dilakukan, semenjak lama. Produk bukunya sudah berjilid. Kita baru sekarang jadi. Telat banget, itupun “cuma” nyaris separuh dari total jenis burung se-nusantara.

Tapi, wilayah yang kita tempati ini memang beda: negara kepulauan terbesar di dunia. Manusianya unik-unik. Jenis burung saking banyaknya, tapi hewan yang paling sering disebut cuma cebong sama kampret.

Dalam tiga dekade terakhir ada tiga proyek percobaan untuk menyusun atlas burung se-Indonesia. Dua pertama gagal.

Buku ABI itu wujud jadi proyek yang ketiga, 100% karya anak bangsa. Pencetusnya kita-kita sendiri, lewat forum Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI) III di Cangar. Diuri-uri tahun demi tahun meski dengan gerak laju siput, hingga akhirnya aplikasi Burungnesia hadir. Lantas dalam PPBI IX di Banyumas tahun lalu, ya kita-kita yang kemudian membulatkan tekad, bersepakat untuk menyelesaikannya.

Soal Burungnesia, itu keris tempaan Mpu Lidah Api, sebagaimana ia menyebut dirinya sendiri. Arek mBatu asli. Lagi-lagi buatan lokal. Maka, mencintai produk-produk endonesa itu ajakan yang harus terus digaungkan tak hanya untuk beli panci.

Anda yang jadi 500 sekian kontributor data, ya pribumi, juga semua di jajaran penggarap buku. Ya dewan pakar–berlatar belakang akademisi dan praktisi konservasi–yang jadi perumus dan editornya, ya barisan tim dapur yang mengulik data, menulis teks, membikin peta, menggarap ilustrasi, sampai mendesain dan membuat tata letaknya. Nama-nama sebagian mereka saja yang bau-bau Arab, Eropa atau Amerika.

Penyandang dana operasional tim, yang bekerja nyaris setahun di satu padepokan sekaligus tempat tongkrongan beriring lagu koplo pagi siang malam, ya lokal. Namanya Retrorika, ngapak banget. Kurang lokal apa lagi coba?

Kemudian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengupayakan pencetakannya. Sebagai representasi negara, syukur-syukur itu dibaca, kelak semoga jadi bahan pertimbangan untuk lahirnya kebijakan yang berpihak pada pelestarian.

Jadi, buku itu diwujudkan secara gotong-royong oleh banyak pihak, kolaborasi anak negeri. Diusung bareng-bareng, lewat apapun yang mungkin bisa dilakukan. Ada yang menyumbang doa, semangat, tenaga, pikiran, dana, hingga suplai vitamin, macam kopi, camilan atau pempek.

Itu yang kayaknya nggak ada dalam penyusunan atlas burung Inggris Raya, Amerika atau Australia. Mbok yakin, nggak ada yang repot-repot mbawain duren atau ngirim parsel buat tim penyusunnya.

Nggak berlebihan lah kalau kini kita berdaulat. Dan tugas, selesai nggak selesai, telah dikumpulkan.

***

Upaya berikutnya yang akan sangat panjang dan tak berkesudahan adalah terus membumikan sains. Ilmu pengetahuan sejatinya harus dekat dengan masyarakatnya. Ia mestinya hadir di keseharian dan jadi bagian tak terpisahkan.

Rasa-rasanya abstrak dan mengawang-awang. Tapi kenyataannya, sains, khusus dalam hal ini ornitologi, masih jauh dari keseharian.

Selagi kebanyakan masyarakat kita lebih kenal penguin daripada maleo, menganggap toucan sama dengan rangkong atau masih menyebut burung madu sebagai kolibri, ilmu pengetahuan alam negeri berarti masih begitu berjarak. Masyarakat yang melek literasi flora faunanya sendiri berarti masih terlalu sedikit.

Kayaknya sepele, tapi piye yo. Tidak mudah, misalnya menjelaskan soal asyiknya dunia pengamatan burung. Dari dulu. Teman-teman sekelas tertawa waktu saya bilang mau pengamatan burung di lereng Merapi. Ada dosen yang pernah menganggap pengamatan burung itu nggak banget. Seakan laboratorium bernama alam raya tidak ada apa-apanya dibanding gedung laboratorium kampus yang menjulang gagah tiga lantai. Tapi itu anggapan beliau dulu. Saat ini dukungan penuh darinya untuk kegiatan yang dilakukan sebuah klub pengamat burung di sudut Karangmalang.

Membawa teropong begitu mencurigakan dan aneh, dikira buat ngintip. Ya emaang! Ngintip burung tapi, bukan ngintip orang mandi doang!

Menenteng monokuler dan tripod, dikira mau syuting film atau survei pengukuran tanah. Itu saya alami sendiri. Anda yang punya kisah lain, boleh lah ikut berbagi.

Seperti seorang kawan bercerita kalau ia dicurigai dan diinterogasi oleh tentara di tempat wisata. Ia membawa kamera berlensa tele untuk memotret burung. Saat diinterogasi, lewatlah orang dengan senapan untuk menembak burung, berlalu santai begitu saja saking biasanya. Memang lokasi itu bersebelahan dengan bandara dan markas tentara. Tapi, tidak ada pelanggaran hukum atau larangan untuk memotret. Penggunaan senapan angin itu yang membahayakan dan meresahkan.

Lantas, hal lain. Soal pertanyaan ‘apa manfaat penelitian untuk masyarakat?’ yang mungkin selevel dengan pertanyaan ‘kapan nikah?’ karena sebegitu template-nya. Pertanyaan itu selalu menjurus sempit pada manfaat langsung secara ekonomi. Padahal itu seperti melompati tahapan dan terburu-buru. Ilmu dasar dianggap usang, ketinggalan zaman, dan tidak bermanfaat langsung (secara ekonomi).

Lha, kan wagu. Bagaimana kita tau apa manfaat emprit bagi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan bangsa dan negara, kalau pengetahuan dasar soal emprit saja belum kumplit? The Four Pests Campaign, satu kebijakan tingkat negara untuk menghabisi burung gereja karena dianggap hama, namun kemudian malah mengakibatkan krisis pangan mengerikan bertahun-tahun. Itu nyata, layak jadi pembelajaran berharga.

Pandemi ini kurang jadi bukti apalagi. Nilai ekonomi dari eksploitasi satwa liar yang tampak menguntungkan itu tidak akan mampu mengembalikan nyawa-nyawa yang hilang.

Bagaimana dengan kebijakan perlindungan satwa dan tumbuhan di Indonesia? Tak perlu dijawab. Kita telah menyaksikan sendiri revisi berjilid-jilid permen, dari 20, jadi 92, lalu 106. Apakah pertimbangan sains ada di sana?

Dan kita kadung kehilangan banyak, terlalu banyak. Bahkan sebelum sebenarnya tau apa-apa yang hilang, sebelum itu sempat ditemukan, apalagi termanfaatkan.

Membumikan sains sepertinya sepele (atau bisa jadi malah terlalu ndakik-ndakik?). Tapi melihat, mengalami dan merasakan banyak hal itu, sudah semestinya kini sains mengakar di masyarakat, membawa pemahaman, kearifan dan kebermanfaatan, di hal apapun, kecil sekalipun.

Sedikit upaya sudah dimulai, salah satunya lewat buku ABI ini. Terserah nanti pembaca mau menempatkan buku itu sebagai apa. Semoga bukan sekadar jadi pengganti bantal atau ganjal.

Jadi, seamatir apapun Anda, terus saja mengamati burung. Amatir itu bukan kutub di seberang profesional. Amatir itu ia yang berkhusyuk di tataran hasrat, minat dan kecintaan.

Terus saja mencatat dan menyumbangkan data. Sekali dua jadikan tulisan, sebarkan. Sering-sering tambah bagus lagi. Niatkan itu sebagai upaya berbagi dalam pengembangan ilmu. Hitung-hitung menyalurkan dan menularkan hobi aneh, agar jamaah makin menyemut. Melakukan yang aneh, tapi berbanyak, sering dan di mana-mana, lama-lama bakal dianggap biasa. Resepnya sih begitu. Kita coba sama-sama.

Jangan ragu, karena ada orang-orang hebat yang mendedikasikan diri, seperti yang kini terus bersetia di balik layar Burungnesia. Telah ada wadah yang akan terus menggerakkan citizen science ornitologi Indonesia. Di dalamnya hanya orang-orang biasa, khalayak sebagaimana kita, namun punya semangat mengabdi dan berbagi yang semoga mampu terus terjaga di titik didih. Mereka bekerja dalam diam, tapi ya sering juga misuh.

Kelak, ketika nanti sumbangan Anda jadi ilmu yang bermanfaat, kebermanfaatan itu kembali ke Anda. Mengalir terus tanpa putus. Kanjeng Nabi yang bilang begitu, bukan saya.

Oleh: peburungamatir | Desember 5, 2020

Tiga Payung Pengusung ‘Desa Ramah Burung’

Kaspo dan Mas Kelik saat pemasangan plang di pedukuhan Jonggrangan, Jatimulyo, Oktober 2016.

Sebutan ‘desa ramah burung’ kadung tersemat pada Jatimulyo. Sebentuk penghargaan untuk rumah nyaman bagi setidaknya 106 jenis burung yang telah terdata.

Namun, sebenarnya apa sih desa ramah burung itu?

Dalam Jalan Panjang Desa Ramah Burung, Kaspo a.k.a. Sidiq Harjanto mendefinisikannya sebagai desa yang punya kepedulian terhadap kelestarian burung maupun habitatnya. Penelusur gua yang sedang vakum lama itu kemudian menambahkan, desa dimana burung dapat hidup berdampingan dengan manusia tanpa saling mengusik.

Saya sepakat dengannya. Dan sebagaimana yang ia singgung dalam tulisan di blog-nya itu, awal penahbisan slogan tersebut memang tidak terencana. Spontan saja, saat kami bermaksud membuat banner, plang-plang informasi sebagai bentuk sosialisasi Peraturan Desa No 8/2014 mengenai Pelestarian Lingkungan Hidup yang diterbitkan pemerintah desa.

Berpegang pada yang disampaikan pihak desa saat itu, kami diperbolehkan membuat plang, namun dengan isi atau narasi yang netral. Tidak boleh berbentuk larangan. Jadilah pada 2016 dua plang informasi berdiri di enam titik seputaran desa. Satu bertuliskan ‘Desa Ramah Burung’, satunya ‘Kawasan Pelestarian Burung’.

Awalnya sesederhana itu.

Hingga kemudian seiring waktu, Jatimulyo bersama si slogan makin dikenal di kalangan para pengamat dan pemerhati burung. ‘Memaksa’ saya dan Kaspo untuk mulai mencoba merumuskan, mengajukan pertanyaan sebagaimana yang jadi pembuka tulisan.

Definisi dari Kaspo telah sangat mengena dan gamblang. Pertanyaan selanjutnya, seperti apa bentuk kepedulian itu, sehingga suatu desa layak menyandang sebutan ramah burung?

Kiranya ada tiga hal yang bisa jadi indikator. Dan agar berima sama dengan burung, sebut saja indikator itu sebagai payung pengusung.

Payung pertama, tentu ada burung di sana. Boleh jadi hanya satu jenis, tapi itu dikenal, diketahui dan jadi perhatian. Ketika keragaman jenisnya tinggi, bentuk perhatian akan sampai pada pendataan jenis burung yang ada.

Di era Kaspo mendata bersama tim kampusnya, hingga 2014, ada 68 jenis yang tercatat di Jatimulyo. Lantas, terus bertambah seiring intensitas kunjungan banyak pengamat. Dalam makalah kami di 2019, jumlahnya naik menjadi 99 jenis. Saya posting di sini. Setahun terakhir, Mas Kelik menyebut sudah menjadi 106 jenis.

Kedua, ada bentuk kesepakatan atau komitmen bersama di masyarakat untuk melindungi burung dan habitatnya. Pada Jatimulyo, bentuknya peraturan desa. Di Desa Ake Jawi, Halmahera Utara, wujudnya deklarasi. Itu tercetus pada 2019 lewat upaya Akhmad David Kurnia Putra dan timnya dari Taman Nasional Aketajawe Lolobata, sebagaimana diberitakan di sini. Sementara di Kampung Hakim Bale Bujang, Aceh, pada tahun yang sama, komitmen hasil inisiasi Agus Nurza dan rekan-rekannya itu tertuang sebagai qanun (selengkapnya di sini).

Mewujudkan komitmen bersama masyarakat desa memang perjuangan tersendiri. Saya yakin banyak pengamat burung yang tengah berupaya untuk itu atau sedang dalam proses berpikir keras mencari cara. Semoga dimudahkan.

Di Jatimulyo, peraturan desa murni lahir atas inisiatif pemerintah desa. Pak Anom Sucondro, lurah saat itu, mengatakan dorongannya lahir dari keresahan atas hilangnya banyak jenis burung akibat maraknya perburuan. Tidak ada dorongan langsung dari pengamat burung. Kalaupun ada, sifatnya tidak langsung. Mungkin dari melihat geliat aktivitas dan kunjungan para pengamat yang tinggi atau komunikasi informal terkait hasil pendataan yang tersampaikan ke pihak desa. Pada Jatimulyo, kami sangat beruntung. Semestanya mendukung.

Ketiga, dan ini yang menantang, bahwa dari dua hal pertama, ada upaya lebih lanjut untuk kemudian desa atau masyarakat desa bisa mendapatkan manfaat dari burung dan upaya pelestarian yang sudah dilakukan.

Pengupayaan di Jatimulyo berawal dari ‘gugatan’ Pak Anom. Saat hadir di JBW Jagongan Menoreh, dalang ini memaparkan peraturan desa yang belum lama ditetapkannya.

Sepenangkapan saya, Pak Anom seperti mengatakan, “Sekarang sudah ada peraturan desa, burung telah dilindungi dan perburuan dilarang.”

Kemudian, “Setelah tau itu dilindungi, setelah tau banyak jenis yang penting atau endemik, lalu apa? Masa’ hanya pendataan-pendataan terus?”

Kira-kira begitu. Jadilah forum itu ajang diskusi mengungkap potensi lain hutan perkebunan Jatimulyo. Terlontar kopi sebagai potensi yang layak diunggulkan.

Pengusahaan kopi kemudian jadi strategi pertama untuk melakukan upaya konservasi burung. Strategi mlipir berkelok naik-turun, indirect. Mlipir karena pengusahaan kopi tidak langsung terkait dengan burung. Kami mesti kait-kaitkan sehingga memilih nama Kopi Sulingan.

Memproduksi kopi sebagai usaha yang kami jalankan sederhananya hanya bentuk substitusi pemanfaatan satu potensi dari hutan perkebunan. Komoditas yang diangkat untuk menggantikan burung. Ketika dulu, di era berburu dan meramu sebelum ada peraturan desa, burung diambil kopi dibiarkan. Setelah terbit peraturan desa, giliran kopi yang diambil, burung dibiarkan.

Meskipun mlipir, tapi strategi yang Kaspo istilahkan sebagai ‘diplomasi kopi’ ini jadi bentuk yang sangat dekat, dikenal dan mudah diterima oleh masyarakat. Kopi, saya kira banyak yang akan sepakat, mampu mengakrabkan suasana. Kawan menyenangkan untuk mencairkan obrolan.

Kaspo lah yang punya peran kunci di sini. Sosoknya telah cukup dikenal di Jatimulyo karena telah sedemikian lama dan intens berkegiatan. Ia KKN di sana, sampai sekarang. Menyambangi Mas Kelik, yang saat itu diakuinya juga baru kenal, pasti akan berbeda sambutannya ketika ujug-ujug saya yang datang. Lha, KTP Tangerang, di Jogja ya cuma numpang. Bahasa Jawa blepotan pula.

Kopi kemudian jadi pintu masuk. Apalagi konsep shade-grown coffee atau kopi naungan klik untuk Jatimulyo. Ada pula sertifikasi tingkat global dengan fokus mengangkat pengusahaan kopi yang bersahabat buat burung bernama bird-friendly coffee. Kopi bisa nyambung untuk omong burung.

Setelah itu baru upaya memulai strategi kedua, strategi tembak lurus, direct, yang mengupayakan pemanfaatan ekonomi langsung dari burung yang dibiarkan. Perburuan bentuknya eksploitatif, tidak menjamin kelestarian, dan sudah dilarang. Yang bisa berkelanjutan, menurut kami, wujudnya dua: ekowisata burung dan program adopsi sarang.

Ekowisata berjalan lewat dua aktivitas, pengamatan dan fotografi burung. Sedikit banyak sudah saya singgung sebelumnya di sini.

Ekowisata burung dapat sangat menjanjikan, berdaya jual tinggi dan akan bisa dikelola secara berkelanjutan. Usaha yang dilakukan suku Bugun di Arunachal Pradesh, India, menurut saya adalah salah satu contoh terbaik. Silahkan berdecak kagum membaca dua artikel ini: From a new bird to a new community reserve: India’s tribe sets example dan Bird business: the man who taught his tribe to profit from conservation.

Pencapaian mereka sungguh layak jadi gantungan cita-cita. Namun, pandemi global seperti sekarang ini jadi pengingat betapa rentannya sektor wisata. Ia memang sangat menggiurkan dan berdampak besar secara ekonomi. Tetapi kemudian kita sama tau, ia, juga wisata pada umumnya, jadi sektor yang kolaps di urutan pertama dan itu seketika. Saya tidak mengetahui kondisi masyarakat sana saat ini. Namun, sebagaimana pengharapan banyak orang, semoga kondisi segera pulih.

Indonesia sebenarnya sudah berkali-kali mengalami keterpurukan di wisata. Bali, seketika sepi saat terjadi peristiwa bom. Ramai-ramai banyak negara mengeluarkan travel ban setelahnya. Peristiwa Mei 98 juga demikian. Dan masih banyak lagi kejadian.

Hal yang sama terjadi di Jatimulyo. Ekowisata burung yang baru mulai merangkak, kemudian langsung tiarap.

Saat sembari merangkak dulu, kami juga mencoba strategi tembak lurus yang lain bernama adopsi sarang. Tapi akan terlalu panjang kalau program yang pertama berjalan di 2016 tersebut saya uraikan di sini. Jadi, lanjut untuk berikutnya saja.

Itulah setidaknya tiga hal yang bisa dirumuskan sebagai bentuk penjabaran desa ramah burung. Pengamatan burung, pendataan potensi, adalah tahap awal. Adanya komitmen atau kesepakatan bersama di masyarakat, perlu diupayakan. Entah nantinya tertuang sebagai peraturan desa, deklarasi sebagaimana di Ake Jawi, qanun seperti di Aceh, hukum adat, nota kesepahaman, pakta, atau apapun itu namanya.

Setelahnya, upaya kebermanfaatan. Atau bisa jadi langkahnya dengan mengupayakan dulu pemanfaatan, setelah terlihat nyata baru mendorong lahirnya kesepakatan.

Sangat mungkin ada wilayah yang bisa diangkat sebagai desa ramah burung lewat strategi tembak lurus, tak perlu mlipir. Mungkin juga pertama memang harus mlipir, tetapi bukan lewat kopi. Banyak kemungkinan.

Intinya, persoalan ekonomi selayaknya juga dijawab dengan ekonomi. Burung harus dilindungi agar lestari hingga anak cucu, itu tentu mulia, amat baik, tetapi normatif. Saya yang belum punya anak, apalagi cucu, kan nggak bisa bilang begitu.

Namun sekali lagi, itu baik. Nilai atau manfaat tidak melulu harus terpatok secara ekonomi. Saya banyak melihat inisiatif-inisiatif perlindungan burung tingkat desa seperti Jatimulyo. Tidak ada plang desa ramah burungnya, tanpa perlu berpayah mencari strategi mlipir atau repot-repot mencari indikator sebagai pembenaran sebagaimana yang kami lakukan. Murni itikad baik saja, kesadaran yang tumbuh untuk menjaga yang tersisa. Menarik sebenarnya untuk bisa mengetahui semangat-semangat yang terbangun di balik itu.

Apapun jalannya, penyematan ‘desa ramah burung’ semoga bisa jadi pendekatan di desa manapun, dan mampu terus berjalan tak hanya sebagai slogan. Penting untuk berkolaborasi, karena nyaris tidak mungkin dilakukan sendiri.

Khusus buat Jatimulyo, kami bersepakat ‘desa ramah burung’ adalah proses, cita-cita yang tertulis. Kadung terpampang di banner soalnya.

Older Posts »

Kategori