
Bentang perbukitan karst Narogong. Meski bagian depannya telah rusak tergerus, potensi kehati di dalamnya masih menyimpan misteri.
Saat hendak blusukan ke Narogong kemarin, saya tidak punya ekspektasi apapun terhadap burung. Dengan pengalaman hanya bisa memotret satu jenis saja di blusukan yang pertama, saya jadi mencoba lebih realistis. Pegunungan karst yang jadi area eksploitasi dua pabrik semen besar itu menurut saya tidak ramah buat pengamat burung.
Ekspektasi saya malah ke anggrek dan kupu-kupu. Memasuki penghujan seperti saat-saat ini, saya dan Asat guru anggrek saya berharap bisa mendapati anggrek unik tengah bermekaran. Pengalaman kami yang baru saja menjumpai Didymoplexis pallens dan Nervilia plicata, dua jenis anggrek yang hanya “keluar” di penghujan, jadi seperti euforia. Soal kupu-kupu, Narogong yang masuk wilayah Bogor itu jadi hunian bagi buanyyak jenis. Di situlah untuk pertama kali saya ketemu Zeltus amasa yang cantik luar biasa.
Mungkin karena tidak punya ekspektasi apapun ke burung, blusukan ke Narogong kali ini jadi punya aib tersendiri. Saya lupa membawa binokuler! Bodoh sekali. Padahal kegiatan itu bertajuk survei, bukan sekadar pengamatan burung biasa dan saya nantinya harus menyetor data. Kalau tidak bawa alat pengamatan, njuk kepiye le pengamatan?
Syukur kendala teknis itu bisa sedikit teratasi. Saya bisa memodifikasi telunjuk dan ibu jari saya jadi alat selayaknya binokuler. Perbesarannya memang tidak seberapa, kekuatan lensanya pun hanya sebatas ketajaman mata. Tapi setidaknya bino jari, sebut saja demikian, bisa memberi Anda sugesti positif. Saya agak susah mendeskripsikan cara membuatnya, jadi, Anda lihat foto peraga di samping saja, ya. Saya yakin Anda pun bisa melakukannya. Hehehe…
Kowak melayu, kado buatku
Dengan kenyataan ekspektasi saya yang tidak ke burung, ditambah kebodohan saya tidak bawa binokuler, bumi Narogong ternyata memberi kejutan. Pada hari ke dua survei, di saat berkendara menyusuri jalur off road yang sangat-sangat tidak nyaman untuk pria berbokong tepos, saya menjumpai kowak melayu Gorsachius melanolophus.
Saat pertama terlihat burung bermotif cantik itu sedang berada di jalur perlintasan. Munculnya mobil dua gardan yang saya tumpangi tidak serta-merta membuatnya terbang dan menghilang. Si burung yang aslinya nokturnal ini hanya berjalan sedikit lalu terbang pendek sekadar menghindari mobil. Ia hanya berpindah ke tepian jalan dan memberikan kesempatan buat saya bisa leluasa memotretnya.
Saat perjalanan balik, burung yang berstatus migran itu masih nangkring di tempat yang sama. Ia berbaik hati memberi kesempatan buat saya memotretnya lagi.
Anggota keluarga Ardeidae ini belum pernah saya lihat sebelumnya. Saya musti tanya-tanya di forum milis SBI-Info untuk bisa mendapatkan kepastian identifikasi jenisnya. Dan tanggapan dari Kang Bas yang jadi Kumendannya FOBI, juga Uya, Bang Iqbal dan BvB, memastikannnya.
Informasi tambahan pun saya dapatkan dari BvB. “Kowak Melayu tidak umum sama sekali tetapi mungkin juga sering terlewatkan (overlooked),” demikian menurut ornitolog yang Belanda tulen itu. Kalau dari catatannya, yang saya yakin itu yang paling update, di Jawa burung ini terakhir tercatat pada Februari 2001. Itu berasal dari seekor yang tertangkap camera trap di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Dari itu, bolehlah kalau burung ini saya anggap jadi kado penghujung tahun yang istimewa buat saya.










Komentar Terakhir