Oleh: peburungamatir | Desember 29, 2011

Cerita dari Narogong

Bentang perbukitan karst Narogong. Meski bagian depannya telah rusak tergerus, potensi kehati di dalamnya masih menyimpan misteri.

Bentang perbukitan karst Narogong. Meski bagian depannya telah rusak tergerus, potensi kehati di dalamnya masih menyimpan misteri.

Saat hendak blusukan ke Narogong kemarin, saya tidak punya ekspektasi apapun terhadap burung. Dengan pengalaman hanya bisa memotret satu jenis saja di blusukan yang pertama, saya jadi mencoba lebih realistis. Pegunungan karst yang jadi area eksploitasi dua pabrik semen besar itu menurut saya tidak ramah buat pengamat burung.

Ekspektasi saya malah ke anggrek dan kupu-kupu. Memasuki penghujan seperti saat-saat ini, saya dan Asat guru anggrek saya berharap bisa mendapati anggrek unik tengah bermekaran. Pengalaman kami yang baru saja menjumpai Didymoplexis pallens dan Nervilia plicata, dua jenis anggrek yang hanya “keluar” di penghujan, jadi seperti euforia. Soal kupu-kupu, Narogong yang masuk wilayah Bogor itu jadi hunian bagi buanyyak jenis. Di situlah untuk pertama kali saya ketemu Zeltus amasa yang cantik luar biasa.

Bino jari (dok. Bionic)

Mungkin karena tidak punya ekspektasi apapun ke burung, blusukan ke Narogong kali ini jadi punya aib tersendiri. Saya lupa membawa binokuler! Bodoh sekali. Padahal kegiatan itu bertajuk survei, bukan sekadar pengamatan burung biasa dan saya nantinya harus menyetor data. Kalau tidak bawa alat pengamatan, njuk kepiye le pengamatan?

Syukur kendala teknis itu bisa sedikit teratasi. Saya bisa memodifikasi telunjuk dan ibu jari saya jadi alat selayaknya binokuler. Perbesarannya memang tidak seberapa, kekuatan lensanya pun hanya sebatas ketajaman mata. Tapi setidaknya bino jari, sebut saja demikian, bisa memberi Anda sugesti positif. Saya agak susah mendeskripsikan cara membuatnya, jadi, Anda lihat foto peraga di samping saja, ya. Saya yakin Anda pun bisa melakukannya. Hehehe…

Kowak melayu, kado buatku
Dengan kenyataan ekspektasi saya yang tidak ke burung, ditambah kebodohan saya tidak bawa binokuler, bumi Narogong ternyata memberi kejutan. Pada hari ke dua survei, di saat berkendara menyusuri jalur off road yang sangat-sangat tidak nyaman untuk pria berbokong tepos, saya menjumpai kowak melayu Gorsachius melanolophus.

Saat pertama terlihat burung bermotif cantik itu sedang berada di jalur perlintasan. Munculnya mobil dua gardan yang saya tumpangi tidak serta-merta membuatnya terbang dan menghilang. Si burung yang aslinya nokturnal ini hanya berjalan sedikit lalu terbang pendek sekadar menghindari mobil. Ia hanya berpindah ke tepian jalan dan memberikan kesempatan buat saya bisa leluasa memotretnya.

Saat perjalanan balik, burung yang berstatus migran itu masih nangkring di tempat yang sama. Ia berbaik hati memberi kesempatan buat saya memotretnya lagi.

Anggota keluarga Ardeidae ini belum pernah saya lihat sebelumnya. Saya musti tanya-tanya di forum milis SBI-Info untuk bisa mendapatkan kepastian identifikasi jenisnya. Dan tanggapan dari Kang Bas yang jadi Kumendannya FOBI, juga Uya, Bang Iqbal dan BvB, memastikannnya.

Informasi tambahan pun saya dapatkan dari BvB. “Kowak Melayu tidak umum sama sekali tetapi mungkin juga sering terlewatkan (overlooked),” demikian menurut ornitolog yang Belanda tulen itu. Kalau dari catatannya, yang saya yakin itu yang paling update, di Jawa burung ini terakhir tercatat pada Februari 2001. Itu berasal dari seekor yang tertangkap camera trap di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Dari itu, bolehlah kalau burung ini saya anggap jadi kado penghujung tahun yang istimewa buat saya.

Kowak melayu (Gorsachius melanolophus) remaja dari Narogong. Terfoto pada 24 Desember 2011.

Kowak melayu yang dideketi nggak melayu

Narsis juga burung ini

Oleh: peburungamatir | Desember 26, 2011

Bionic 7ujuh 7ahun

Selamat ulang tahun ke-7 Bionic-ku

Tanggal 25 Desember 2011 Bionic berusia tujuh tahun. Untuk mensyukuri itu, saya pun mengirimkan SMS ucapan selamat ulang tahun ke para Bionicers. Maklum, saya tidak bisa ikut kumpul-kumpul karena sedang di satu tempat bernama Narogong, di pelosok Bogor sana.

Tidak seperti 25 Desember tahun-tahun sebelumnya, di tahun ini memang tidak ada perayaan khusus yang dilakukan oleh pengurus. Perayaan khusus yang berarti di tanggal itu berlangsung Musyawarah Anggota (Musyang). Namun, berhubung Shaim sang kepala suku bersama dua stafnya, Juki & Kukuh, sedang blusukan di TN Gunung Kerinci Seblat, Jambi, Musyang pun tidak dilaksanakan berbarengan dengan ultah Bionic.

Biar begitu, dan ini asyiknya, para Bionicers tetap berkumpul. Mereka rupanya mengadakan kegiatan pelatihan identifikasi burung pantai. Meski saya tidak bisa ikut dan berada di tengah-tengah mereka, tapi rasanya senang sekali mengetahui kalau mereka masih berkumpul dan berkegiatan. Tambah senang lagi begitu dapat kabar dari Helmy, “Pesertane 17, lanange 4.. Alhamdulillah musim berbunga..hehehe.” Tau aja si Helmy kalau saya senang bunga :)

Nah, karena di saat ultah Bionic kali ini saya sedang tidak bersama para Bionicers yang lain, saya pun hanya bisa mengirim SMS ucapan selamat ulang tahun. Itu pun tidak semua anggota saya SMS. Selain tidak punya nomor kontak anggota yang baru-baru, nomor kontak anggota yang lama-lama pun sebagian besar hilang. Jadi, ya seadanya saja, cuma ke beberapa nomor dari yang ada di BlackBerry Adventure saya. Hehe…

Beberapa membalasnya. Isinya baik, penuh do’a dan harapan. Karenanya, saya tuliskan di sini agar Bionicers sampai generasi kapanpun bisa ikut membaca dan mengamini…

“Dan semoga mampu lebih berkancah di dunia konservasi..” (Surya Purnama – 6:46:03).

“Selamat hari kelahiran bionic juga mas, trimakasih sudah membesarkan bionic hingga sampai sejauh ini. Semoga terus berjaya. Mohon bimbingannya :-D “ (Munifah – 7:15:44)

“Happy birds day my homy bionic.smoga sll jd rumah yg nyaman buat bionicers kapanpun ingin pulang..doaku, bionic ttp rendah hati, rukun, no war make love, haha.. cpt gd jd ukm-even im not that in to be. pokoke i love u full. peace, love n gaul” (Imey – 7:35:22)

“Hore

hehe..

“Brsyukur mas smpai saat ne msh brdiri tegap.semoga ilmunya brmanfaat buat qt semua.amin” (Abdu – 7:44:17)

“sip jga

n makasih :)

pda kisruh ultah k brp? da yg blg 8, 7? sing bener ndi?” (Rina Septuningsih – 7:54:20)

“Selamat ulang tahun bionic yang ke-7, salam lestari dan jaga kekompakan ya, he..” (Rina Angesthi Rahayu – 8:46:46)

“Yo’a. jaya bionic kita semua!” (Zulfikar Abdullah – 11:26:56)

Lalu, Arif Alfauzi, wakil kepala suku Bionic, membalas di pagi buta di 26 Desember. Katanya, “Selamat ulangtahun untuk Bionic yg ke 7, muga2 bsa briding, brtelur banyak,&trbang lbih tinggi. Lbih Sukses kdepan… Amin. Hehe :)

Biar SMS-nya rada telat, tapi nyambung dengan tema. Daripada Arifin. Dari kelebatan rimba Sumatera sana, balasannya malah jadi pertanyaan, “Lg musyang po mam?” Ah, dasar orang lama, tinggal di hutan pula…

Apapun, itulah wujud perhatian dan kecintaan mereka. Saya hanya bisa bersyukur masih bisa melihat Bionic terus tumbuh. Sebagai penutup, saya tuliskan juga yang disampaikan Uya di milis Bionic.

Dan sejarah itu terjadi, tepat di malam Natal, saat semua kawan-kawan pengurus HIMA menyetujui berdirinya BSO BIONIC dalam kelembagaan mereka.

Ini adalah tonggak awal, yang sesungguhnya tidak berhenti pada skala legal – illegal sebuah komunitas dalam kampus. Ini memiliki arti besar, dalam ranah keilmuan Biologi dan kependidikan. Sebuah pendobrakan atas sistem ke-kaku-an kurikulum yang mengkungkung mahasiswa dalam bentuk ceramah tanpa batas, serta tunduk pada aturan scientist of “laborist”.

Tapal batas itu telah bergeser di malam Natal 2004, meski tidak selamanya kami bisa menang melawan tirani kurikulum perkuliahan. Namun, yakinlah…dalam setiap perjalanan pasti ada resiko yang menghadang, kita pasti bisa melewatinya.

Jayalah BIONIC-ku, gapailah mimpimu….

Dari semua do’a dan harapan itu, saya hanya bisa mengamini. Amiin.. :)

Oleh: peburungamatir | Desember 22, 2011

Di Merapi Mereka Bercinta

Rhipidura phoenicura, pasangan sehati yang bikin iri. Plawangan, 31 Mei 2011.

Rhipidura phoenicura, pasangan sehati yang bikin iri. Plawangan, 31 Mei 2011.

Sang garuda terbang membumbung tinggi
Keluar dari persembunyiannya dalam rapat hijau hutan depterokarp
Aku mengamati dengan takjub dari tempat ini—tepian hening merapi

Ia bertengger tenang
Rimba raya dalam kesunyian
Dan aku masih berbicara dalam kebisuan
Tentang derap langkah kepunahan yang menghantui masing-masing kita
—Hingga kelak sang garuda, rimba raya dan aku
Hanya tinggal menjadi cerita

(Di Tepian Hening Merapi–Ciputat, 170507)


Erupsi Merapi 2010 membuat saya berpikir gunung di utara Jogja itu sudah “habis”. Kenyataannya, saya salah, sebagaimana yang saya tuangkan dalam tulisan ini.

Dari  beberapa kali kunjungan setelah erupsi itu, saya membuktikan sendiri bahwa masih ada kawasan yang selamat dari peristiwa dahsyat itu. Saya pun mendapati kalau beraneka makhluk hidup yang bernaung di selimut kabutnya masih bertahan. Termasuk burung, yang beberapa jenis di antaranya berbaik hati memperlihatkan kepada saya kehidupan percintaan mereka.

Seperti kipasan ekor-merah Rhipidura phoenicura yang fotonya saya pasang di atas. Saat itu pasangan tersebut tengah bersarang di sekitar Plawangan, tidak jauh dari puncaknya. Sarangnya ditemukan pertama kali pada 13 April 2011 oleh tim survei Fakultas Kehutanan UGM & Balai Taman Nasional Gunung Merapi.

Saat foto itu saya ambil di akhir Mei 2011 (satu setengah bulan setelah temuan pertama), saya menjumpai mereka tengah membuat sarang juga. Belum jadi malah. Alaminya saat itu mereka tengah mengasuh anakan. Tapi sepertinya sarang pertama mereka gagal, lalu mereka membuat sarang baru. Saya meyakininya seperti itu karena sarang berada persis di pinggiran jalan setapak jalur trekking.

Aethopyga eximia betina di sarangnya. Plawangan, 17 Maret 2011

Entah bagaimana nasib mereka selanjutnya. Mungkin tidak seberuntung burungmadu gunung Aethopyga eximia. Setidaknya saya menjumpai dua kali adanya aktifitas breeding sesama endemik Jawa ini.

Pertama, di medio Maret 2011, kala seekor betina terlihat bolak-balik ke sebuah tanaman pakis tiang (Cyathea sp). Rupanya di pucuk tanaman tersebutlah ia menempatkan sarangnya. Cukup tersembunyi.

Tanaman tersebut tumbuh persis di lereng jalan setapak menuju Goa Jepang Plawangan. Sarangnya sendiri terletak di ketinggian sekitar 5 meter. Kalau tidak berhenti dan memperhatikan si burung yang selalu bolak-balik ke tanaman itu, pasti sarangnya tidak akan pernah saya temukan.

Dari aktifitasnya, kemungkinan individu itu tengah dalam masa pengasuhan. Meski begitu, saya tidak melihat jantan pasangannya di sekitar sarang.

Perjumpaan kedua terjadi sekitar satu bulan setelahnya. Lagi-lagi saya menjumpai seekor betina, yang kali itu terlihat bolak-balik mengambil serat bunga dari tanaman keluarga Asteracea. Saya cukup yakin kalau betina itu individu berbeda dari yang saya jumpai sebelumnya. Selain rentang waktunya yang terpaut sudah cukup lama, lokasi saya menjumpai keduanya juga cukup jauh.

Jenis yang lain terlihat saling memadu kasih, yakni cabai gunung Dicaeum sanguinolentum dan ciu besar Pteruthius flaviscapis. Keduanya saya jumpai di hari yang sama dengan saya menjumpai kipasan merah. Lokasinya pun tidak terlalu berjauhan, masih di sekitaran puncak Plawangan.

Jantan Dicaeum sanguinolentum saat tebar pesona. Plawangan, 31 Mei 2011.

Jantan Dicaeum sanguinolentum saat tebar pesona. Plawangan, 31 Mei 2011.

Cabai gunung yang saya jumpai saat itu masih dalam masa-masa awal mencari pasangan. Yang terfoto adalah satu bagian dari aktifitas display jantan guna menarik perhatian betinanya. Si jantan menggerak-gerakkan sayap dan ekornya, menari-nari. Unik sekali. Baru kali itu saya melihatnya.

Sementara, ciu besar yang saya temui saat itu tengah membangun sarang. Meski foto yang terpampang adalah jantan, namun sebenarnya, baik jantan maupun betina sama-sama membangun sarang. Keduanya saling bekerja sama mengumpulkan material untuk  sarang yang akan jadi tempat membesarkan buah cinta mereka. Bila jantan pergi, betina menjaga sarang sembari membenahi bentuk maupun material yang sudah disusun. Pun demikian sebaliknya. Harmonis sekali, saya iri… hehehe…

Pteruthius flaviscapis jantan. Bersama betinanya mereka bekerja sama membangun sarang. Plawangan, 31 Mei 2011.

Pteruthius flaviscapis jantan. Bersama betinanya mereka bekerja sama membangun sarang. Plawangan, 31 Mei 2011.

Selain jenis-jenis tersebut, saya setidaknya mencatat indikasi aktifitas breeding dari empat jenis yang lain. Kacamata biasa Zosterops palpebrosus dan wergan jawa Alcipe pyrrhoptera tengah membangun sarang. Teramati  juga dua individu remaja dari Erythrura prasina si bondolhijau binglis, memastikan adanya keberlanjutan keturunan jenis ini di Merapi.

Yang paling menarik, temuan elang jawa Spizaetus bartelsi yang tengah bersarang. Sarang ditemukan di Plawangan, oleh Hary Subarkah, saat ia melakukan survei populasi lutung jawa Trachypithecus auratus di tempat tersebut.

Sayang, dari beberapa kali pengecekan, sepertinya pasangan elang jawa tersebut gagal bersarang. Karena pada saat pertama dijumpai, aktifitas yang terlihat adalah pengeraman, namun di dua minggu berikutnya, sarang sudah terlihat kosong dan ditinggalkan. Kalau demikian yang terjadi, ini menjadi catatan kegagalan yang ketiga bagi elang jawa di Merapi.

Sebelumnya, aktifitas elang jawa bersarang ditemukan pada 2008 dan 2009 oleh BB. Setyawan (Mas Wa). Meski diamati cukup intensif, aktifitas bersarang di Alas Tekek selama dua tahun berturut-turut itu selalu gagal menghasilkan anakan.

Ditambah kegagalan bersarang di 2011, nasib elang jawa di Merapi sebenarnya cukup tragis. Ini jelas jadi lampu merah buat siapa pun, terutama yang mengaku jadi pemerhati burung. Atau biarlah kehidupan berjalan adanya, karena toh kita semua hanya akan tinggal jadi cerita…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.